DEPOK - Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Donny Gahral memprediksi suara partai berbasis islam akan melorot pada pertarungan politik 2014 nanti. Hal itu terjadi di dua pertarungan baik legislatif maupun eksekutif.
Di pertarungan pemilu legislatif, kata dia, trend partai Islam akan menurun berada di bawah suara partai berbendera nasionalis. Ia mencontohkan, PDIP, Partai Demokrat, Partai Golkar, Gerindra, Hanura, bahkan Nasional Demokrat (NasDem) akan mengungguli partai Islam.
"Sedangkan suara partai PKB, PKS, PAN, dan PPP, saya menduga akan merosot besar," papar Donny saat berbincang dengan Okezone, Minggu (21/10/12).
Donny mencontohkan Pemilukada DKI Jakarta yang bisa memenangkan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama yang diusung partai nasionalis. Sementara partai Islam sudah tak dilirik lagi oleh masyarakat.
"Partai berlandaskan agama sudah tidak penting, orang sudah meilhat sesuatu yang rasional, melihat prestasi politik, kampanye yang memakai ayat - ayat tak yakin bisa memuluskan partai Islam di 2014 nanti," tegasnya.
Sementara, lanjut Donny, untuk pemilihan presiden atau tingkat eksekutif, pertarungan bukan didasarkan pada parpol, tetapi mengacu pada figur. Donny menegaskan, jika partai islam mengusung figur yang memiliki kapabilitas, maka peluang meraih suara besar akan tercapai.
"Saya menduga kalau tingkat eksekutif lain, yang menentukan itu figur, misalnya partai Islam mengusung nama Dahlan Iskan atau Mahfud MD, itu bisa. Cari figur yang pantas, meskipun tetap saja partai Islam harus berkoalisi dengan partai nasionalis kalau mau menang, karena perolehan suara mereka akan kecil tak bisa memenuhi PT 20 persen, saya kira PKS sekitar 6 persen, PKB 2 persen," tutupnya.
Sebelumnya peneliti Lingkaran Survei Indonesia Ajie Alfaraby mengatakan partai politik berbasis Islam terancam tidak lagi masuk ke dalam lima besar partai politik di Pemilu 2014. Jika pemilu digelar hari ini lima besar perolehan suara partai politik dikuasai oleh partai nasionalis, yaitu partai yang berbasis pancasila (Partai Golkar, Partai Demokrat, PDIP, Partai Gerindra dan Partai NasDem)
"Tokoh nasionalis lebih populer dibanding tokoh Islam. Tokoh Islam perolehan suara di bawah 60 persen, berbeda dengan pamor dari partai nasionalis yang dikenal publik, mendongkrak suara diatas 60 persen," kata Ajie 14 Oktober lalu.
Ajie menambahkan bahwa dukungan pemilih sangat dipengaruhi oleh sosok figur atau kandidat partai. "Dari sisi figur partai islam kalah secara popularitas dan kalah dukungan dibanding dengan partai nasionalis,partai politik islam hanya mendapat perolehan suara dibawah lima persen dibanding dengan partai nasionalis," paparnya.
Lebih lanjut Ajie menegaskan, sosok figur dari partai nasionalis seperti Megawati Soekarno Putri, Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto lebih dikenal publik dibanding dengan calon presiden dari partai islam seperti Hatta Rajasa, Suryadharma Ali, dan Lutfi Hasan Ishaq.
(K. Yudha Wirakusuma)