JAKARTA - Sekretaris Fraksi Partai Demokrat DPR, Saan Mustopa, membentuk relawan untuk Pemilu Legislatif 2014. Tujuannya, membangun partisipasi langsung masyarakat dalam politik.
Dia mengatakan, para relawan tersebut nantinya akan menjadi ujung tombak menyampaikan pesan-pesan politik kepada masyarakat.
“Harus ada aktor-aktornya untuk menyampaikan gagasan itu. Oleh karena itu, saya merasa perlu menciptakan struktur di luar partai. Relawan ini nantinya yang akan menyampaikan atau mentransformasikan pesan politik," kata Saan dalam acara pelatihan relawan di Dusun Pakar Buana, Kecamatan Tegal Waru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Minggu (30/12/2012).
Namun, Saan menegaskan, pembentukan relawan bukan karena dirinya pragmatis. Sebagai politikus, kata Saan, dirinya membutuhkan perantara untuk menyampaikan pesan-pesan politik.
“Kalau saya berpikir pragmatis ngapain saya blusukan capek-capek. Saya tidak begitu. Saya hanya ingin menularkan gagasan. Kita ini politikus 'eceran', bukan 'grosiran',” tambahnya.
Saan mengatakan, membangun kesadaran politik yang kolektif di masyarakat sangat membutuhkan peran relawan yang berperan sebagai aktor politik. Tugas para relawan memberikan pemahaman ke masyarakat bahwa politik digunakan untuk memberikan kemaslahatan masyarakat.
Tidak hanya itu, para relawan juga berperan memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa masih ada politikus yang bertanggungjawab kepada konstituennya. Di tengah apatisme masyarakat terhadap partai, lanjut dia, pemahaman itu perlu diberikan agar tercipta kesadaran kolektif di masyarakat.
“Virus kesadaran itu harus ditularkan kepada masyarakat. Kita hadir untuk menciptakan kesadaran kolektif bahwa politik itu ibadah. Setelah itu kita tularkan kepada masyarakat bahwa politik tidak seperti yang dibayangkan masyarakat pada saat ini,” ujarnya.
Saan menyadari kekecewaan publik terhadap partai bukan kesalahan masyarakat, tetapi kesalahan politikus yang bersikap pragmatis dengan menempatkan posisi rakyat dalam hubungan transaksional.
Dalam kesempatan itu, Direktur Riset Charta Politika, Yunarto Wijaya, dan Direktur Program Prisma-LP3ES, Suhardi Suryadi, turut hadir meyampaikan materi-materi kepada lebih dari 60 relawan.
Yunarto mengatakan, jaringan relawan yang dibangun Saan Mustopa harus militan untuk memperkuat infrastruktur politik melalui komunikasi dan melebarkan jaringan supaya dapat mempertahankan basis pemilih dalam Pemilu Legislatif 2014.
“Ternyata infrastruktur politik yang mempertahankan Partai Golkar dan PDIP. Kalau Partai Demokrat bisa mempertahankan basis pemilihnya maka akan sulit digoyahkan menjadi partai besar dalam pemilu berikutnya,” kata Yunarto.
Berdasarkan survei, Yunarto mengatakan, pemilih yang telah memilih partai yang sama selama tiga kali pemilu maka akan tetap menjatuhkan pilihan yang sama pada pemilu berikutnya. Menurutnya, hal itu yang dilakukan oleh partai-partai besar saat membangun dan mempertahankan infrastruktur politiknya.
Namun bila Partai Demokrat gagal mempertahankan basis pemilihnya dalam Pemilu 2014 maka akan menjadi partai menengah. “Jangan pernah merasa percaya diri dengan data (pemilu) 2009. Ada rasionalisme dalam pemilih yang bisa berubah di hari terakhir bila tidak dibina,” ujarnya.
Partai Demokrat, lanjut dia, akan menghadapi tantangan lebih berat pada Pemilu 2014. Sebab, Partai Demokrat mendapatkan suara besar selama dua kali pemilu karena adanya sosok Susilo Bambang Yudhoyono. Karena itu, calon legislator (caleg) akan menjadi ujung tombak untuk mempertahankan basis pemilihnya dalam Pemilu 2014.
“Kondisinya lebih berat. Caleg-caleg yang hanya dapat limpahan kursi siap-siap tidak dapat (kursi lagi) dalam pemilu 2014 karena faktor SBY sudah tidak ada," ujarnya. Itu sebabnya, kata dia, Partai Demokrat akan membutuhkan caleg-caleg yang benar-benar melakukan kerja politik di basis pemilihnya.
Tidak hanya kerja caleg yang menjadi faktor penentu, lanjut Yunarto, relawan yang dibentuk caleg pun akan menjadi penopang yang menentukan. Oleh karena itu, kata dia, perilaku seorang relawan berpengaruh terhadap citra kandidatnya. "(Meningkatkan) Citra bukan hanya kandidat, tapi juga relawannya," kata Yunarto.
Sementara itu, Direktur Program Prisma-LP3ES Suhardi Suryadi, mengatakan penilaian masyarakat yang menyamaratakan perilaku semua politisi dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap partai mengakibatkan politisi bersih dan bertanggungjawab terhadap konstituennya turut menjadi korban.
“Akhirnya politisi yang melakukan 'serangan fajar' dengan melakukan politik uang terkadang mendapatkan suara lebih banyak dibandingkan politisi yang telah rajin bekerja selama tiga tahun sebelum pemilu," ujarnya.
Meski tak mudah, kata Suhardi, Partai Demokrat di tengah menurunnya kepercayaan publik masih memiliki waktu untuk menyiapkan calon legislator yang bagus, infrastruktur dan relawan. Namun, kata dia, yang terpenting adalah memperbaiki citra dan kinerja partai.
Sebab, kata Suhardi, faktor yang terpenting dalam pemilu legislatif bukan hanya memilih caleg yang bagus dan sumberdaya. Namun, lanjut dia, yang tak kalah penting juga harus dilakukan adalah memperbaiki kinerja partai.
(Dian AF)