WASHINGTON - Aaron Alexis, diketahui menderita post-traumatic stress disorder (PTSD) atau dengan kata lain gangguan stres pascatrauma. Ini diklaim terjadi setelah dirinya membantu upaya penyelamatan di New York setelah serangan teroris 9/11.
Laporan polisi Seattle menyebutkan, ayah dari penembak massal ini mengakui jika anaknya mempunyai masalah mengendalikan amarah saat dirinya kembali dari New York, seusai membantu upaya penyelamatan setelah serangan teroris pada 12 tahun silam.
Demikian terungkap dalam laporan kepolisian Seattle, saat Alexis berurusan dengan polisi Seattle. Demikian seperti dikutip dari Huffington Post, Selasa (17/9/2013).
Alexis pernah ditangkap pihak kepolisian karena memakai senjata api, ketika tetangganya melaporkan bahwa Alexis melepaskan tembakan ke apartemen mereka.Pada saat itu, Alexis mengklaim bahwa tangannya tergelincir ketika ia sedang membersihkan senjatanya, serta tidak sengaja menembak.
Seperti diberitakan sebelumnya, Aaron Alexis langsung ditembak mati petugas setelah dia melepaskan beberapa tembakan di Washington Navy Yard. Tembakan Alexis membuat 12 orang tewas seketika di dalam Angkatan Laut pada Senin sekira pukul 8 pagi waktu setempat.