Sekelumit Kisah "Pak Ogah" di Ujung Jalan Pasar Cipulir

K. Yudha Wirakusuma, Jurnalis
Selasa 15 April 2014 12:12 WIB
Ilustrasi (Foto:Okezone)
Share :

JAKARTA - Matahari baru saja tiba, namun tak ada alasan bagi pria berkulit kelam ini
untuk bercengkarama dengan kasur dan selimut. Sambil membawa gayung yang berisi
alat mandi, ia bergegas ke kamar mandi. Sebelum memulai pekerjaan, tak lupa ia menyantap pisang goreng ditemani kopi pahit hangat, di ujung gang kawasan Ulujami, Jakarta Selatan.

"Nanti (bayarnya) ya Mpok," ujarnya sambil bejalan ke arah perempatan lampu lalu lintas Ulujami, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Sesekali dia melihat kendaraan yang berniat untuk berputar arah di ujung Jalan Pasar Cipulir, dari arah Kebayoran Lama ke Ciledug. "Di sini sebenarnya enggak boleh putar, soalnya bikin macet. Tapi bagaimana lagi namanya nyari duit," kata Mardi sambil menggerakkan jari, seraya berharap ada kendaraan yang mau dibantu untuk memutar arah di kawasan Pasar Cipulir.

Tak banyak kata yang terlontar dari pria kelahiran tahun 1978 itu. "Saya lagi kerja, nanti malah ada polisi lagi," singkatnya.

Selama satu jam, sudah lima mobil yang memutar arah, tentu saja rupiah demi rupiah ia kumpulkan. Sesekali uang koin yang diberikan oleh pengendara mobil jatuh ke jalan raya. Ia pun tak ragu untuk mengambil dan memasukkan ke dalam tas pinggang hitamnya.

Saat ada polisi yang berjaga di Jalan Cipulir, ia terpaksa untuk gigit jari. Sebab Mardi tak bisa bekerja. "Kalau ada polisi, ya enggak ada pak ogahnya," ucap Amin salah seorang penjaga toko yang sehari-hari berjualan di sudut Jalan Cipulir.

Terkadang sesama "Pak ogah" kerap bertikai lantaran rebutan 'lapak' mencari nafkah. "Ya kalau berantem sih ada, tapi enggak pernah sampai pukul-pukulan," ucapnya.

(K. Yudha Wirakusuma)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya