Share

Momok Jalan Pengantin Ali bagi Mempelai (1)

Nina Suartika, Okezone · Sabtu 22 Maret 2014 05:40 WIB
https: img.okezone.com content 2014 03 22 500 958996 NBlNsWwNOi.jpg Jalan Pengantin Ali

Jika Anda sudah bertunangan, apalagi segera menikah, jangan sekali– kali mencoba melintas di Jalan Pengantin Ali, Ciracas, Jakarta Timur. Konon, jika pasangan melintas di jalan tersebut akan terkena musibah.

 

Waktu sudah menjelang adzan Ashar, anak -anak yang tinggal di gang Pengantin Ali mulai berdatangan ke sebuah musala yang diberi nama Al Barokah. Rohayah (52), si pemilik rumah yang juga penjaga musala pun juga siap menyambut anak – anak itu. Biasanya, setelah menunaikan ibadah salat Ashar, Rohayah mengajarkan anak – anak itu mengaji di musala tersebut.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

 

Ukuran musala Al Barokah tidak begitu besar, hanya sekira 5x7 meter. Semula, tidak ada yang aneh dari musala tersebut. Pajangan–pajangan berupa asma Allah terpatri tepat di depan garis untuk imam memimpin salat. Di bagian tempat salat wanita pun hanya dipasang sebuah kain yang dipergunakan sebagai pembatas.

 

Namun, tepat di samping tempat salat wanita tersebut, tertanam sebuah batu. Batu itulah yang menurut penduduk setempat dipercaya sebagai batu pasangan pengantin yang bernama Ali. Batu itu tumbuh secara misterius setelah Ali dengan pasangannya, Ema tercebur ke sebuah sungai saat sedang melakukan arak – arakan pengantin.

 

Kejadiannya sekitar tahun 1940-an saat warga di sekitar kawasan Tanah Merdeka, Ciracas, Jakarta Timur sedang mengiringi rombongan pengantin Ali dan Ema. Sudah menjadi kebiasaan, setelah melakukan ijab Kabul, kedua mempelai diarak keliling kampung menggunakan tandu terpisah.

 

Ketika rombongan melalui jembatan di atas Sungai Cipinang, tiba – tiba tandu yang diusung Ema oleng. Wanita yang baru saja resmi melepas masa lajangnya itu terlempar ke sungai yang kebetulan airnya sedang tinggi dan arusnya deras.

 

Melihat sang istri barunya hanyut, Ali pun segera loncat dari tandu ke sungai tersebut. Pria itu langsung terjun ingin menyelamatkan Ema, istri yang sangat dicintainya itu. Namun takdir berkata lain, kedua mempelai justru hilang ditelan arus sungai.

Saat itu, seluruh warga kampung dikerahkan untuk mencari jasad mereka. Akan tetapi, sejak itu warga tidak pernah menemukan jasad keduanya. Mereka hilang ditelan ganasnya Sungai Cipinang saat itu.

 

Tidak lama kemudian, warga dikejutkan dengan munculnya dua batu berukuran sekitar 50 cm di tempat hilangnya pengantin tersebut. Masyarakat percaya, batu itu merupakan jelmaan jasad Ali dan Ema yang hilang saat sedang melakukan arak – arakan pengantin. Hingga sekarang, cerita itu masih tersimpan apik di benak warga sekitar yang merupakan warga asli di Pengantin Ali.

 

Kebenaran cerita mengenai pengantin bernama Ali pun diiyakan oleh M. Yasin (64), tokoh masyarakat setempat. Menurutnya, berdasarkan cerita dari kakeknya dan beberapa saudara – saudaranya yang saat itu menyaksikan hilangnya dua pengantin itu, batu pengantin Ali tiba – tiba saja muncul secara misterius. Cerita itu pun kemudian berkembangan menjadi adanya banyak kejadian – kejadian aneh di sekitar jalan Pengantin Ali.

 

Yasin mengatakan, dahulu ada beberapa warga yang melihat sosok pria misterius yang berpakaian mirip raja. Makhluk halus itu duduk bersila di atas batu yang saat itu masih bersebelahan.

 

“Biasanya orang suka melihat raja itu didampingi pengawalnya. Orang – orang di sini percaya kalau raja itu adalah penunggu Kali (sungai) Cipinang,” kata Yasin.

 

Kemungkinan, lanjut Yasin, raja makhluk halus itu penghuni Sungai Cipinang itu tidak senang dengan perkawinan Ali dan Ema. Dia takut posisinya akan diambil alih oleh Ali. Sehingga raja makhluk halus itu iri melihat kedua mempelai diarak melewati Jembata Cipinang seperti seorang raja yang didampingi permaisuru nan jelita.

 

“Dengan murka, raja kemudian mengutuk kedua mempelai menjadi batu. Dan sampai sekarang banyak calon pengantin yang takut lewat jembatan itu. Mungkin mereka takut cerita itu terulang lagi,” terang Yasin.

 

Namun uniknya, di kawasan itu jalan – jalannya banyak yang menggunakan nama jalan Pengantin Ali. Lebih dari 10 jalan yang menggunakan nama tersebut. Yasin sendiri mengaku tidak tahu menahu mengenai penggunaan nama Pengantin Ali di sekitar daerah Ciracas tersebut. Padahal menurutnya, dahulu di kawasan tersebut hanyalah rawa – rawa yang sering dijadikan empang bagi warga sekitar.

 

“Saya juga bingung kenapa di sini menjadi banyak jalan Pengantin Ali. Padahal dulunya sih di sini malah banyak rawa – rawa yang dijadikan warga untuk bikin empang. Buat miara ikan air tawar. Tapi itu dulu, sekarang mah sudah banyak rumah – rumah, air yang digunakan sebagai empang juga sudah kotor begitu,” kata Yasin.  (Bersambung)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini