Share

Kisah Noni Belanda di Museum Bahari

Nina Suartika, Okezone · Jum'at 21 Maret 2014 07:30 WIB
https: img.okezone.com content 2014 03 21 500 958466 0tV5oUferQ.jpg

Setiap bangunan kuno, selain memiliki sejarah yang panjang juga memiliki kisah-kisah misteri yang menjadi cerita tersendiri bagi masyarakat sekitar. Begitu pula dengan Musem Bahari yang berada di Jalan Pasa Ikan Luar Batang No. 1, Penjaringan, Jakarta Utara. Banyak kisah misteri yang tersimpan di museum ini, mulai dari penampakan sosok Noni Belanda sampai lukisan yang bergerak.

Bau amis ikan tercium sangat menyengat ketika saya tiba di Museum Bahari pada liburan nasional beberapa hari yang lalu. Bau ini membuat sejumlah pengunjung harus menutup hidung. Pengerukan lumpur yang berada tepat di seberang pasar Ikan juga membuat bau semakin tidak sedap dan menambah kesan kotor. Selain itu, warung-warung tenda yang didirikan secara sengaja di depan museum pun juga kerap membuat suasana museum menjadi macet.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Museum Bahari merupakan salah satu tempat yang menjadi objek wisata sekaligus tempat belajar bagi para pelajar. Museum ini dibangun pada abad ke-17 dan 18 sesuai yang tertera di pintu utama masing-masing gedung.

Pada masa penjajahan Belanda, museum ini dijadikan sebagai gudang penyimpanan rempah-rempah sehingga tidak heran jika banyak rempah – rempah yang terpajang di museum ini. Rempah – rempah yang dikoleksi misalnya rempah, kopi, teh, tembaga, timah dan tekstil. Selain itu, museum ini juga digunakan sebagai pusat keluar dan masuknya kapal. Banyak kapal dari luar Indonesia yang datang dan tercatat di museum ini.

Sementara itu, pada masa pendudukan Jepang, museum ini dipergunakan sebagai tempat menyimpan logistik tentara Jepang. Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini digunakan oleh PLN dan PTT untuk gudang. Kemudian pada 7 Juli 1977 yaitu pada kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin, bangunan ini diresmikan sebagai Museum Bahari.

“Museum ini memiliki dua sisi, sisi barat dikenal dengan sebutan Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat dan sisi timur disebut Oostzijdsche Pakhuizen atau Gudang Timur,” kata Nuryahdi salah satu satpam yang berjaga di museum tersebut.

Menurut Nuryahdi, banyak koleksi yang ada di Museum Bahari, di antaranya miniatur perahu tradisional phinisi dan kapal zaman VOC. Selain itu, ada pula berbagai model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran.

Namun, lanjut Nuryahdi, yang paling diminati oleh pengunjung yaitu lukisan Laksamana Malahayati yang berada di lantai dua. Menurutnya, yang menarik dari lukisan tersebut yaitu di bagian matanya bisa bergerak sendiri. “Kalau kita melihat ke kedua matanya, sepertinya dia sedang memperhatikan dan melirik ke arah mana kita melangkah,” kata satpam yang baru bekerja dua tahun di museum ini.

Menurut Nuryahdi, bergeraknya mata lukisan Laksamana Malahayati bukanlah karena adanya kekuatan gaib melainkan karena kepandaian sang pelukis. “Matanya bergerak karena kehebatan pelukisnya saja, bukan karena adanya kekuatan gaib,” katanya.

Laksamana Malahayati merupakan salah satu Panglima Angkatan Perang kerajaan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Al Mukammil pada tahun 1589 – 1604. Dia mendapat kepercayaan sebagai wanita Inong Balee.

Inong Balee adalah pasukan wanita yang semuanya telah ditinggal oleh suaminya di medan pertempuran. Malahayati juga perempuan pertama di Asia yang diangkat menjadi Panglima karena keberaniannya menyerang kapal serta benteng – benteng Belanda. Pasukan yang dipimpin oleh Malahayati juga memiliki benteng pertahanan. Beberapa sisa – sisa pangkalan Inong Balee kini berada di Teluk Kreung Raya.

                                                                        *****

Nuryahdi tidak membantah jika di Museum Bahari memang memiliki kekuatan supranatural atau dihuni oleh makhluk-makhluk gaib. Namun, dia mengaku selama dua tahun menjaga museum dia belum pernah bertemu atau mendapatkan kisah misteri.

“Kalau mengalaminya sendiri saya belum pernah dan mudah – mudahan jangan sampai saya mengalami hal – hal gaib seperti itu. Tetapi kalau berdasarkan cerita memang ada beberapa cerita dari pengunjung yang pernah melihat penampakan di dalam museum itu,” kata lelaki 50 tahun ini.

Nuryahdi bercerita bahwa anaknya yang berusia sekitar 10 tahun juga pernah melihat penampakan di Museum Bahari ini. Penampakan tersebut dilihatnya tepat di dekat tempat dia berjaga.

“Kalau kata anak saya, di meriam dekat pajangan kapal – kapal itu pernah ada anak kecil yang sedang berlarian. Kalau Anda bisa melihat atau merasakan pasti Anda akan melihat sosok tersebut karena sosok itu memang biasa menetap di meriam itu,” kata Nuryahdi dengan nada serius.

Menurut Nuryahdi, memang Museum Bahari merupakan salah satu museum tertua yang keberadaannya jarang menjadi pusat perhatian bagi pemerintah pusat atau pemerntah daerah. Hal ini terbukti dari bangunan museum yang sebagain besar sudah roboh, sehingga pengunjung harus berhati – hati jika ingin menaiki lantai 2 gedung.

“Tetapi sekarang sudah sedang direnovasi sebagian dan bahkan akan ditambah koleksi museumnya. Misalnya nanti akan ada kamar untuk Nyai Ratu Kidul, kamarnya akan di tempatkan di lantai dua gedung C yang berada di samping koleksi miniature kapal,” kata Nuryahdi.

Selain itu, di dalam museum ini juga akan dibangun sebuah kafe yang bertujuan untuk menarik minat pengunjung jika kelelahan. “Di sini juga akan dibuat pertunjukan film untuk menggambarkan situasi di museum, itu loh seperti yang ada di Keong Emas. Jadi pengunjung selain bisa melihat koleksi – koleksi miniature juga bisa menonton filmnya,” kata Nuryahdi.

Nuryahdi mengatakan, renovasi ini diperkirakan akan selesai pertengahan tahun 2014. Dia memperkirakan berbaikan museum sudah sekitar 80 persen. “Kira – kira pertengahan tahun kita sudah bisa menikmati pertunjukan museum melalui film. Sekarang juga kita masih menunggu pengalihan pengurusan museum dari daerah ke PT Bank Mandiri yang ditunjuk sebagai perusahaan yang mengelola semua museum – museum yang ada di Kota Tua, termasuk Museum Bahari ini,” katanya.

                                                                        *****

Catur, salah satu penduduk yang tinggal di dekat Museum Bahari mengaku sering mengalami kejadian – kejadian aneh di museum ini. Sebagai seseorang yang dianggap sepuh di daerah Pasar Ikan ini, Catur mengaku pernah melihat sosok Noni Belanda yang sering berkeliaran di dalam museum.

Catur bercerita, pada zaman penjajahan Belanda, di lingkungan gudang rempah – rempah itu pernah tinggal seorang gadis Belanda yang cantik bernama Emma. Emma adalah putri mandor gudang tersebut.

Berdasarkan cerita, Emma jatuh cinta dengan seorang pribumi yang juga penjaga gudang keturunan Ambon bernama Yakob. Namun, pada tahun 1780, Batavia diserang wabah penyakit kolera. Untuk menjaga keamanan putrinya Emma, sang mandor mengungsikan Emma ke Pulau Onrust yang karena dianggap jauh dari kemungkinan penyebaran wabah kolera.

Akan tetapi, Emma akhirnya meninggal di pulau tersebut dengan menahan rindunya kepada Yakob. Di Batavia, Yakob pun tidak konsentrasi karena menanggung duka akan kematian Emma. Dia pun akhirnya dipulangkan ke Ambon.

“Kadang – kadang Noni Belanda itu suka menampakan dirinya, kadang – kadang di museum tapi juga kadang – kadang di pantai. Tapi kalau kata nelayan di sini sih mereka menganggap kalau keberadaan Emma itu untuk menemani mereka,” kata Catur.

Selain Noni Belanda, Catur juga mengaku pernah ditemui oleh sosok wanita yang sering sekali muncul di dalam gedung C museum. Namun, wanita yang ditemui ini bukan Noni Belanda. “Wanita itu mengenakan pakaian merah itu sering saya jumpai kalau malam hari. Tetapi karena sudah biasa jadi tidak takut,” kata Catur.

Tidak hanya, Catur yang juga kerap ikut berjaga di museum terkadang sering mendengar suara – suara dari dalam museum. Terkadang ada saja suara seperti suara orang tertawa atau suara derap langkah dari lantai tiga atau lantai dua museum.

“Iya kalau malam paling banyak suara - suara yang muncul, kadang – kadang ada suara orang lagi nanngis, tertawa, suara derap langkah dan ada juga suara – suara binatang. Banyak deh suaranya,” kata lelaki 60 tahun ini.

                                                                        *****

Cerita misteri dari Museum Bahari ini juga diungkapkan oleh Ratno, salah satu office boy di museum. Dia mengaku pernah bertemu dengan sosok Noni Belanda tepat ketika dia sedang membersihkan gedung C.

“Waktu itu saya lagi membersihkan gedung C yang berada di ujung bangunan museum. Saat itu saya melihat seperti ada seorang wanita berambut pirang. Saya perhatikan wanita itu, karena saya pikir itu pengunjung makanya saya diam saja. Tetapi saat saya di depan dan tanya ke satpam kalau ada pengunjung bule di sini, satpam menjawab tidak ada,” kata Ratno.

Ratno mengatakan, terkadang pengunjung yang datang di museum ini juga pernah ada yang mengalami kesurupan. Dia pun meminta agar pengunjung yang datang tidak boleh banyak melamun karena hal itu akan membuat dirinya dengan mudah di masuki oleh makhluk halus.

“Pernah waktu itu baru datang ke museum lalu sama satpam di arah kalau mau berkunjung lebih baik melalui pintu utama agar bisa melihat lebih banyak koleksi museum. Baru beberapa menit diberi arah, eh tidak lama ada yang kesurupan. Katanya sih yang kerusupan itu memang lagi ada masalah jadinya dia lebih banyak melamun,” kata Ratno.

Tidak hanya itu, ada juga pengunjung yang kerap bercerita bahwa mereka pernah ditemui oleh sosok makhluk berbadan besar dan hitam. “Iya katanya juga ada yang pernah melihat makhluk tinggi dan badannya hitam. Tetapi kami di sini yang menjaga hanya ngeles saja biar mereka tidak takut,” kata Ratno.

Meski begitu, Ratno mengaku tidak takut dengan hal – hal gaib yang ada di sini. Menurutnya, bekerja di dalam museum apalagi yang sudah dibangun lama sekali pasti akan memiliki kisah – kisah misteri.

“Kalau saya sih tidak akan pernah takut karena saya hanya takut sama Allah. Saya percaya Allah akan menjaga saya. Karena tidak hanya di museum yang bangunannya didirikan sudah lama, di rumah atau di tempat lain juga pasti ada setannya. Makanya saya tidak takut karena juga  mungkin sudah terbiasa diganggu atau ditemani,” kata Ratno sambil tertawa.

                                                                        *****

Sementara itu, seorang pengunjung yang tidak ingin disebutkan namanya mengaku pernah juga bertemu dengan sosok wanita. Saat itu dia bersama dengan teman – temannya sedang menikmati paket wisata Kota Tua yang ada di depan Museum Fatahillah.

“Waktu saya sendiri sedang ada di lantai dua tempat menyimpan miniatur– miniatur kapal. Saya merasa padahal saya sedang sendiri tetapi tiba – tiba ada seorang wanita berambut panjang muncul dari balik pintu. Yang saya tahu pintu itu awalnya tertutup tapi tiba – tiba berhenti, saya langsung saja turun,” katanya.

Kejadian itu membuatnya tidak lagi berani berkunjung ke museum sendirian. “Jadi sekarang kalau mau berkunjung ke museum dan lihat – lihat koleksi mendingan ramai – ramai, soalnya kalau sendirian takut ada yang nemenin lagi,” katanya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini