Share

Momok Jalan Pengantin Ali bagi Mempelai (2)

Nina Suartika, Okezone · Sabtu 22 Maret 2014 06:02 WIB
https: img.okezone.com content 2014 03 22 500 958997 uk38ymxQ1n.jpg Batu Keramat

Kini di tempat kedua batu itu muncul telah berdiri musala Al Barokah. Tempat ibadah itu menyatu dengan rumah Rohayah yang juga dipercaya sebagai juru kunci batu keramat tersebut. Selintas, tak ada yang menyangka jika tempat itu adalah bagian penting dari legenda Jalan Pengantin Ali.

 

Rumah Rohayah itu tampak tidak berpenghuni, selalu tertutup oleh gerbang berwarna hitam. Jalan di derah tersebut pun terlihat sepi, hanya beberapa warga pendatang saja yang duduk – duduk tidak jauh dari mushollah. Berbeda dengan jalan – jalan Pengantin Ali di tempat yang lainnya.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

 

Ketika diwawancarai, janda beranak tiga itu mengatakan bahwa masih banyak masyarakat yang datang untuk mengunjungi batu keramat tersebut. Padahal, saat ini batunya sedang direnovasi. Karena kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Jika hujan tiba dengan  derasnya, maka di musala itu akan kebocoran yang airnya akan membanjiri batu tersebut.

 

Menurut Rohayah, masyarakat yang datang kebanyakan berasal dari luar daerah Jakarta. Mereka bisa berhari – hari menginap di musala tersebut. Berdasarkan kepercayaan mereka, batu keramat itu memberikan berkah. “Banyak orang yang datang ke sini mengaku sembuh setelah bertapa berhari – hari di batu keramat itu,” kata Rohayah.

 

 “Saya juga ngga tahu kenapa , tapi orang – orang itu rela sampai berminggu – minggu nyekar di sini. Malah dulu pernah ada petapa yang ketakutan karena melihat ada yang aneh. Katanya sih, orang itu ngelihat ada air bah yang bergulung – gulung datang ke dia, makanya dia teriak,” ungkap Rohayah.

 

Dia sendiri mengaku pernah disentuh oleh sosok Pengantin Ali tersebut. Dia bercerita saat itu dia baru pulang berbelanja. Karena merasa letih, dia pun duduk beristirahat. Tak lama kemudian, dia merasa tangannya seperti disentuh oleh seseorang. Lama kelamaan, badannya terasa dingin tak tertahankan. Padahal, dia sudah menyelimuti dirinya dengan kain yang tebal, tetapi tetap saja dia merasa kedinginan.

 

“Padahal waktu itu kondisi badan saya sedang sehat- sehat saja. Baru setelah mendekati azan Dzuhur dinginnya ilang. Waktu ada orang pinter yang datang ke sini, dia bilang kalau saya sama Wanda disentuh oleh mempelai pria,” kata Rohayah.

 

Sementara itu, menurut Frans (39), anak Rohayah, memang banyak kejadian – kejadian aneh di sekitar batu keramat tersebut. dia sendiri sering melhat bayangan – bayangan putih ketika sedang menjaga mushollah Al Barokah.

 

“Kalau melihat langsung belum pernah tetapi kalau bayangan – bayangan sekelabatan sering. Itu biasanya kalau udah malam, kadang – kadang suka ada angin sepoi – sepoi, padahal di mushollah jarang kipas angin saya nyalain,” kata Frans.

 

Menurut Frans, penduduk setempat yang merupakan warga asli di Jalan Pengantin Ali ini memiliki kepercayaan jika anak perempuan mereka menikah, tidak boleh dirayakan. Kalau pun mau, mereka harus merayakannya di tempat lain, tidak boleh di kampungnya ini.

“Kalau orang – orang asli di sini sih pada ngerti, kalau anak – anaknya yang perempuan menikah nggak boleh dirayain atau diarak, soalnya bisa jadi petaka. Tetapi kalau orang – orang pendatang yang nggak tahu sih mereka biasa – biasa saja,” katanya.

 

Dia menceritakan pernah suatu hari ada pengantin wanita yang berasal dari jalan tersebut. orang tuanya adalah penduduk asli jalan itu. Namun, karena merasa cerita mengenai pengantin Ali itu mitos, orang tua si perempuan nekat menyelenggarakan pesta pernikahan bagi putrinya itu.

 

“Waktu itu baru sebentar pesta dimulai setelah ijab Kabul, tiba – tiba saja pengantin perempuannya tersambar petir sampai meninggal. Makanya orang  - orang asli sini nggak ada lagi yang berani bikin pesta pengantin di sini,” ungkap Frans.

 

Menurut Frans, banyak juga warga sekitar yang sering melihat kejadian – kejadian aneh di sekitar rumahnya dan juga jembatan yang pernah menjadi saksi bisu kedua mempelai tersebut tercebur ke sungai. Dia mengatakan, warga sekitar, khususnya para pendatang paling sering melihat sosok wanita yang menggunakan kebaya serba putih.

 

“Banyak orang – orang di sini yang suka melihat ada wanita yang pakai kebaya putih. Kadang – kadang mereka melihat di depan mushollah tetapi kadang – kadang ada juga yang melihat di sekitar jembatan. Itu biasanya yang suka melihat orang – orang pendatang yang baru tinggal di sini,” kata Frans.

 

Dia mengatakan, pernah ada seorang warga yang baru beberapa bulan tinggal di sekitar gang tersebut. saat itu, dia baru pulang dinas sekitar pukul 2 malam. Warga itu merasa kalau ada yang memperhatikan di sekitar musholah, saat melihatnya, dia pun seperti melihat sosok lelaki dan wanita yang mengenakan pakaian kerajaan sedang duduk di depan musala.

 

“Pagi – paginya orang itu bilang ke saya kalau dia melihat ada dua orang yang sedang duduk di depan musala. Dia bilang kalau dia melihat keduanya mengenakan pakaian seperti kerajaan, dia pun menanyakan ke saya. Lalu saya bilang memang itu keluarga saya. Karena saya yakin kalau dia belum tahu mengenai cerita Pengantin Ali,” kata Frans.

 

Namun, saat itu, Frans mengingatkan agar orang itu tidak lagi melewati jalan ini ketika malam hari. Dia menyarankan agar orang tersebut memilih jalan lain yang lebih ramai.

“Karena kadang – kadang ada saja orang yang melihat penampakan yang lain selain pengantin Ali. Ada juga yang suka melihat kuntilanak. Jadinya saya suka saranin kalau pulang malam mendingan pilih jalan lain yang lebih ramai,” kata Frans. (Bersambung)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini