Disampaikan juga bahwa kloning DNA bisa dilakukan, asalkan sel-sel para korban Trigana itu masih hidup. Hanya saja hal itu membutuhkan waktu yang cukup lama.
Waterpauw menambahkan, jika pemeriksaan DNA itu terkendala, dirinya akan berbicara dengan para keluarga korban guna mencari solusi terbaik. Salah satu yang terpikir dan masih dalam pertanyaan, adalah mungkin tidak korban dikubur secara massal.
"Saya pikir suatu saat kalau tidak bisa dibuktikan, kami akan bicara dengan keluarga korban. Apakah buat kubur massal atau bagaimana," ujarnya.
Sebelumnya pesawat Trigana Air menabrak gunung di Oksibil. Pesawat itu mengangkut 49 orang.
Kurang lebih, setengah dari para korban pesawat naas itu telah teridentifikasi dan telah diambil jasadnya oleh keluarga korban, sisanya masih di kamar jenazah RS Bhayangkara, Kota Jayapura, Papua.
(Abu Sahma Pane)