Taman Nasional Sembilang Terbakar, Habitat Satwa Terancam

Mewan Haqulana , Jurnalis
Jum'at 11 September 2015 02:24 WIB
Ilustrasi (Foto: Antara)
Share :

BANYUASIN - Kebakaran hutan yang telah memasuki kawasan hutan lindung Taman Nasional Sembilang (TNS) Banyuasin II mengancam keberadaan satwa di dalamnya.

Kepala Balai TNS Syahimin mengatakan, sampai saat ini sekira 5 hektar kawasan TNS sudah terbakar. Ada kemungkinan kebakaran akan meluas lagi, tepatnya disekitar sungai Benu dan perbatasan dengan HTI.

"Perambahan hutan yang semakin marak ditambah kebakaran lahan, membuat habitat satwa di kawasan TNS makin terancam," katanya, Jumat (11/9/2015).

Seperti diketahui kawasan TNS merupakan habitat sejumlah hewan dilindungi. Diantaranya harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), tapir (Tapirus indicus), siamang (Hylobates syndactylus syndactylus), lumba-lumba air tawar (Orcaella brevirostris), dan berbagai jenis burung.

"Juga sejumlah spesies tanaman dan ratusan hektar hutan mangrov," jelasnya.

Menurut Syahimin, pihaknya sejak dua minggu lalu sudah berada di lokasi, berjibaku memadamkan api dan mencegah agar tidak meluas. Namun, keterbatasan personil dan peralatan, membuat mereka tidak bisa berbuat banyak.

"Total anggota ada 29 orang, untuk menjaga 205.750 hektar TNS. Memang tergolong sedikit, tapi kami berupaya maksimal," kata dia.

Peralatan yang dimiliki TNS hanya berupa pemadam tabung. Untuk itu, pihaknya bekerja sama dengan perusahaan di sekitar TNS untuk meminjam peralatan mesin pompa.

"Kendalanya sumber air harus ditempuh sejauh 2 km lebih dari lokasi kebakaran. Itupun tidak bisa menggunakan mobil, motorpun sulit melewati jalan setapak yang kecil," keluhnya.

Sementara ini, mereka membuat pos-pos penampungan air yang diangkut manual dari kanal. Bila sudah mendekati lokasi baru disambung pakai selang untuk pemadaman.

"Idealnya memang pakai helikopter super puma, seperti yang dipakai Pemprov Sumsel. Namun, kita harus ngantri dulu, karena helikopternya sekarang masih dipakai untuk pemadaman hutan di Ogan Komering Ilir (OKI)," ungkapnya.

(Fransiskus Dasa Saputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya