Lanjut Laode, kekerasan dan pembunuhan terhadap Salim, mungkin bagi sebagian pebisnis, merupakan cara memberi pelajaran agar tak ada lagi orang-orang yang bisa menghalangi rencana bisnis mereka ke depan.
"Karena siapa saja yang kritis maka harus siap tanggung risiko dihabisi seperti halnya Salim," pungkasnya.
Seperti diketahui, dua warga Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menjadi korban penganiayaan orang tak dikenal. Satu warga bernama Namri alias Kancil, tewas mengenaskan di pinggir jalan, dan seorang lagi bernama Tosan, luka berat dan kondisinya kritis.
Informasinya, sejumlah warga hendak melakukan aksi penolakan tambang di obyek wisata Watu Pecak Pinggir Pantai Selatan. Salim yang saat itu hendak bersiap-siap untuk mengelar aksi dan berkumpul dengan warga penolak tambang, sedang jalan kaki. Namri alias Kancil yang sedang jalan kaki tiba-tiba didatangi sekelompok orang yang diduga pro tambang pasir. Mereka memakai kendaraan motor lalu menghajar pakai kayu dan batu. Kemudian, Salim tewas disiksa dan dihajar di jalan.
Puas menganiaya Salim, massa mendatangi rumah Tosan untuk menganiaya. Pelaku yang lebih dari dua orang itu, langsung mengejar Tosan dan terlibatlah duel di lapangan desa setempat. Tosan yang sendirian, dengan mudah dihajar dan kondisinya kritis.
(Muhammad Sabarudin Rachmat (Okezone))