BLITAR- Siang itu amarah penyair dan juga aktivis Aliansi Pelangi Blitar menggurat jelas. Tatap matanya berubah beringas. Suaranya tiba-tiba meledak keras saat memasuki diksi.
"Tersungkur seorang petani. Karena tanah adalah tanah. Tanah dan darah memutar sejarah. Dari sini nyala api. Dari sini damai abadi,”
Di atas trotoar jalan depan kantor DPRD Kota Blitar di bawah sengat terik matahari. Penyair itu mengepalkan tinju kiri dan mengacungkannya.
Sorot matanya semakin garang. Ada gumpalan api dendam yang harus terbalaskan. Dendam sesama kawan perjuangan.
Seperti dibekap sihir. Suasana mendadak hening. Puluhan pasang mata aktivis petani, sosial, antikorupsi, penggiat pluralisme dan mahasiswa Blitar tertuju ke arahnya.
Dengan berapi api ia tuntaskan bait puisi "Matinya Petani" karya Agam Wispi penyair eksil bekas sastrawan Lembaga Kesenian Rakyat.
Puisi ini untuk mengenang peristiwa penggusuran petani Tanjung Morawa. Puisi yang pernah dilarang penguasa Orba.