Puisi 'Matinya Petani' Kenang Kematian Salim Kancil

Solichan Arif, Jurnalis
Sabtu 03 Oktober 2015 21:00 WIB
Aksi yang digelar aktivis mengenang tujuh hari kematian Salim Kancil (foto-Solichan Arif-SINDO)
Share :

"Mereka berkata yang berkuasa. Tapi merampas rakyatnya. Mesti turun tahta sebelum dipaksa".

Hari ini karya realisme sosialis itu kembali mengudara untuk Salim Kancil, aktivis petani Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang yang dibunuh oleh kekuasaan.

Teriakan merdeka sontak sahut bersahut membahana. Penyair itu memungkasi puisi dengan teriakan lawan. Lawan segala ketidakadilan yang menggilas nasib petani kecil.

"Kasus Salim Kancil harus diusut tuntas sampai ke akar-akarnya. Bila tidak akan muncul korban Salim Salim lain, tidak terkecuali di Blitar," ujar Jaka Wandira selaku korlap aksi solidaritas untuk Salim Kancil, Sabtu (3/10/2015).

Sebuah spanduk bertuliskan "Pitung Dinoan (tujuh hari) Syuhada Lingkungan Salim Kancil" menjadi latar belakang mimbar trotoar.

Di sebelahnya terpampang spanduk bertuliskan warna biru "Di Tanah Kami Nyawa Tak Semahal Tambang" dan warna merah "Salim Kancil Dibunuh".

Jargon dan gambar lelaki dalam kondisi tangan terikat, terkapar dan mati itu memang lagi populer di seluruh media sosial dan surat kabar mainsteram.

Ya, hari ini puluhan aktvis Blitar menggelar aksi solidaritas memperingati tujuh hari kematian Salim Kancil. Tidak hanya berorasi. Para aktivis juga bergantian berdeklamasi membaca puisi.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya