Tanpa sekolah dan kegiatan pengembangan diri, banyak anak terpapar kehidupan malam termasuk seks, alkohol, lem, dan obat terlarang.
Kemudian, lahirlah Rika, anak pertama Kokom. Bersama Ayat, Kokom memiliki lima anak perempuan dan satu laki-laki.
Dengan lantang, dia berhitung, "ada Rika, Susan, Sumi, Yadi, Lia, dan Tia."
Namun setelah 28 tahun, Kokom dan Ayat tak akur. "Pingin pisah saja, puyeng," kata Kokom enggan bercerita. "Ibu yang kerja, usaha, minta-minta. Ibu merasa jadi tulang punggung."
Mengingat anak-anak
Setelah berpisah, Kokom ikut dengan suami kedua bernama Yayan. Mereka hidup berpindah-pindah dan memiliki empat anak: Kamal (9), Adrian (8), Jia (28 bulan), dan Rahmat (1 minggu).
Hidup bersama Yayan tak juga berujung bahagia. Dua bulan lalu, saat Kokom mengandung delapan bulan, Yayan menelantarkannya dan pergi dengan perempuan lain.
Di tahap inilah Kokom mengaku tak lagi punya harapan. Hidupnya tertekan, kepalanya dipenuhi hal-hal yang tak sanggup dia pikirkan.
Dia mengingat anak-anaknya.
Satu siang, di pinggir jalan, Kokom menenggak 20 pil obat sakit kepala, berpikir untuk mati.
“Mama jangan makan itu," tangis Adrian, anaknya yang baru 8 tahun.