KARANGANYAR - Tingginya curah hujan membuat warga Desa Beruk, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, siaga longsor. Dalam dua hari ini, longsor terjadi di kawasan Bukit Taksin yang berbatasan dengan Magetan.
Longsor hari ini lebih besar dari longsor yang terjadi kemarin. Material longsor menimpa satu rumah warga dan menimbun jalan yang menghubungkan tiga dusun. Untungnya dalam insiden tersebut tidak ada korban jiwa.
Untuk memantau pergerakan tanah, selain mengamati secara visual, warga menggunakan alat sederhana yang terbuat dari bambu dan tali. Alat sederhana tersebut merupakan ide relawan yang khawatir terjadinya longsor susulan.
Cara membuatnya, dua bilah bambu ditancapkan di tanah. Kemudian di atasnya ditempatkan bambu lain yang salah satu sisinya terikat dengan bambu yang menancap. Bila bambu bagian atas bergeser, maka terjadi pergerakan tanah.
"Kita buat alat dari bambu biar bisa melihat dan sebagai tanda kalau tanah bergerak. Jika salah satu bambu yang dipasang amblas, berarti ada pergerakan di dalamnya," jelas Andi relawan Karanganyar Emergency kepada Okezone, Jumat (19/2/2016).
Cara kerjanya, jelas Andi, dua bilah bambu ditancapkan di titik tertentu. Antara dua bilah bambu tersebut diikatkan dengan seutas tali. Pemasangan tali tersebut akan terlihat bergerak sebagai tanda ada pergeseran di dalam tanah.
Dia menerangkan, ciri area rawan longsor yakni pepohonan yang tumbuh tampak miring, ada rekahan tanah, mudah tergenang banji namun surut seketika, dan ada retakan di dinding rumah.
Menurut Andi, pemasangan alat sederhana itu murni dilakukan para relawan tanpa melibatkan BPBD. Pasalnya, usulan memasang Early Warning System belum mendapat respon dari BPBD setempat.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Karanganyar Nugroho mengatakan, fokus utama pihaknya saat ini adalah membuka jalan yang terputus karena longsor. Sebab akan berdampak pada perekonomian warga.
"Fokus utama adalah membuka jalur, baru selanjutnya memikirkan pemantauan," pungkasnya.
(Risna Nur Rahayu)