Sebelum mereka diberangkatkan ke Batam, ia dimintai uang oleh Opu, per orangnya USD3 ribu. Alasan Opu meminta uang itu untuk biaya operasional sebelum ia diberangkatkan ke Malaysia.
"Karena dia (Opu) agen kami, makanya kami berikan uang USD6 ribu. Janjinya, Opu akan memberangkatkan kami ke Malaysia," sambungnya.
Sesampainya di Batam, sambungnya, ia diinapkan di Hotel Bahari Nagoya oleh Opu dan meninggalkannya berdua di dalam hotel sambil menunggu waktu keberangkatan.
Setelah beberapa hari menunggu dan tidak ada kepastian, ia akhirnya bertemu dengan teman Opu, Selina. Kepada Selina, ia menyatakan kebingungan. Selain tak memegang uang lagi, paspor miliknya juga ditahan.
"Setelah menyampaikan itu, Selina membantu ambil paspor kita ke Opu," ujarnya.
Meski satu masalah telah selesai, mereka berdua dipusingkan lagi untuk biaya ke Bangladesh. Setelah dibantu Selina, mereka akhirnya diberangkatkan ke Malaysia melalui Pelabuhan Internasional Batamcenter. Namun sesampainya di Stulang Laut, ia ditolak karena tidak memiliki Visa.
"Makanya kami kembali lagi ke Batam, untuk meminta bantuan lagi kepada Selena," tuturnya.
Selena saat ditanyai seputaran masalah ini mengatakan tak ada niat apa-apa dengan kedua orang Bangladesh ini, dan hanya membantu. Pasalnya, agen keduanya tersebut sudah lama ia kenal.
"Saya dengan Opu sudah lama kenal, tetapi baru kali ini saja kejadian seperti ini," kata Selena.
Menurut Selena, ia yang memberangkatkan keduanya ke Malaysia dan agen keduanya memberikan uang sebesar Rp5,5 juta untuk biaya perjalanan dan juga uang pelicin di Pelabuhan.
"Uang itu saya berikan kepada Idris pegawai BP Batam, karena ia menjanjikan bisa melewatkan keduanya ke Malaysia," kata Selena.
Dikarenakan keduanya gagal masuk ke Malaysia, Selena juga kebingungan karena keduanya tak jadi berangkat. Agar masalah ini ada kejelasannya, ia akhirnya membawa keduanya ke Polresta Barelang untuk membuat laporan.
"Saya didesak terus oleh mereka, karena keduanya minta uangnya agar kembali lagi. Karena saya tak merasa menerima uang itu, makanya saya sarankan saja mereka untuk membuat laporan," sambungnya.
Nuruzzaman menambahkan, selama ia berada di tempat penampungan Opu yang terletak di Apartemen Mangga Besar, Opu menyimpan banyak pria asal negro yang tidak memiliki dokumen paspor maupun surat lainnya.
"Opu ini mafia tenaga kerja. Saya tahunya saat di Batam setelah dikatakan Selena," kata Nuruzzaman.
Kepada polisi ia berharap membongkar jaringan Opu dan meminta agar uangnya kembali. Pasalnya, ia tak lagi memegang uang untuk biaya kehidupannya.
"Saya tak mau minta banyak, hanya meminta polisi menangkap Opu agar uang saya kembali lagi," katanya.
Kepala SPKT Polresta Barelang AKP Yanti membenarkan laporan kedua warga asing itu dan ia masih berkoordinasi dengan Sat Intel dan Sat Reskrim. Apakah masuk pidananya atau tidak. "Karena transaksi uangnya itu bukan di Batam, tetapi di Jakarta," ujarnya.
(Awaludin)