SIMALUNGUN - Tim ahli riset Kementerian Perikanan RI memastikan, kematian ratusan ton ikan di perairan Danau Toba, kawasan Haranggaol Horison akibat kekurangan oksigen.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Simalungun, Jarinsen Saragih mengatakan, penelitian penyebab kematian ikan tersebut sebagai bentuk tanggungjawab pemerintah setempat atas insiden tersebut.
"Perlu dipastikan supaya jelas dan tidak menjadi spekulasi yang menyesatkan di masyarakat," kata Jarinsen, Rabu (4/5/2016).
Tim yang dipimpin Prof Krismono MS dari Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumberdaya Ikan (BP2KSI) ini melakukan penelitian langsung di lokasi kasus. "Yang diteliti kualitas air dan ikan," ujarnya.
Ikan yang diternakan di dalam keramba di Danau Toba kekurangan oksigen karena jumlah populasi tidak sesuai dengan luasan area. Menurut Jarinsen, idealnya satu meter kubik per satu kilogram ikan, sedangkan di perairan ini mencapai sekira 6.000-an lebih keramba jaring apung.
Keadaan itu diperparah dengan kondisi cuaca yang tidak mendukung, sehingga tidak terjadi proses fotosintesis di keramba. "Jadi tidak ada kaitannya dengan program penertiban keramba dari Pemkab Simalungun yang akan menjadikan Haranggaol sebagai tujuan wisata," ujar Jarinsen.
Pemkab Simalungun bersama masyarakat, khususnya peternak melakukan pembersihan perairan Danau Toba dari ikan-ikan yang mati untuk dikubur.
Seorang peternak ikan, Sudung Siallagan (38) mengatakan, kematian ikan ternakan terjadi satu minggu lalu. Dalam kurun tiga hari, terjadi kematian massal yang menimbulkan kebingunan dan kerugian bagi para peternak ikan.
(Fransiskus Dasa Saputra)