"Selain itu juga mengajarkan kepada jemaat agar memiliki kepedulian terhadap gereja dan sesama umat manusia lainnya," imbuhnya.
Dalam perayaan tersebut, ada enam blok unduh-unduh yang diarak sesuai dengan jumlah dusun yang ada. Ribuan warga dari berbagai daerah juga terlihat memadati jalan untuk menyaksikan budaya unduh-unduh tersebut.
"Sangat luar biasa. Saya lihat masyarakatnya itu membaur jadi satu tidak memandang ras, agama atau kepercayaan. Siapapun orangnya, mereka bergabung jadi satu dalam kegiatan itu dan terlihat harmonis,” ungkap Victor Haulilo warga asal Nusa Tenggara Timur.
Selanjutnya, semua hasil bumi tersebut, kemudian di lelang bebas kepada masyarakat. Hasilnya akan digunakan untuk pengerjaan pelayanan gereja dan akan disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan.
(Risna Nur Rahayu)