“Dulu banyak yang acuh, sekarang malah ditawari banyak barang bekas. Yang penting tidak menyalahi aturan dan tidak mengganggu teman. Cari yang halal dan barokah agar anak-anak saya sukses,” tuturnya sembari memilah sampah.
Meski berjibaku dengan sampah hampir setiap hari, dirinya mengaku sehat-sehat saja dan tidak menderita penyakit serius. Setiap hari antara Rp25 ribu hingga Rp 50 ribu bisa dihasilkannya dari sampah. Di lingkungan kerjanya yang bisa dikatakan “lahan basah” tak membuatnya tergoda. Kalau ada orang yang akan memberi dimintanya untuk memberikannya ke masjid atau anak yatim.
Ia pun mengatakan seraya sedikit bercanda, “Seumpama mau menerima saya bisa saja jadi kaya, lha tidak minta saja kadang diberi. Bayangkan kalau per orang Rp 50 ribu, dan yang memberi ada 10 sudah Rp500 ribu. Dan bisa Anda hitung sendiri itu kalau dilakukan selama 16 tahun,” katanya seolah memang banyak godaan di lingkungan kerjanya.
Namun bukan itu yang dicarinya karena menurutnya penghasilan semacam itu tidak barokah. “Saya ya cari sampingan dengan sampah ini, mudah-mudahan anak-anak saya yang saya didik dengan jujur ini bisa menjadi polisi meneruskan saya,” harapnya.
Baginya, ada dua pilihan rezeki yang bisa dipilih manusia di dunia ini. Rezeki yang baik dan rezeki yang buruk. “Semua ada konsekuensinya, tergantung memilih yang mana orang itu,” pungkasnya. (ful)
(Awaludin)