Tradisi ruwatan yang dilakukan di Pendopo Agung Trowulan ini sudah berlangsung sejak lama. Air yang digunakan untuk membasuh para remaja ini juga berasal dari tujuh petirtaan di Kecamatan Trowulan yang merupakan kawasan utama kerajaan Majapahit.
"Airnya dari pertirtaan Siti Inggil Petilasan Raden Wijaya, pertirtaan Prabu Hayam Wuruk. Kemudian dari pertirtaan Tribuana Tunggal Dewi, pertirtaan Sumur Sakti Maha Patih Gajahmada, pertirtaan Sumur Upas,pertirtaan Sumber Towo dan pertirtaan Putri Cempo," imbuhnya.
Menurut Ki Suwoto ada 60 jenis kelahiran yang harus diruwat. Diantaranya, ontang-anting (satu laki-laki atau satu perempuan), gentono-gentini (dua anak laki-laki dan perempuan), sendang keapit pancuran (tiga anak, laki-laki-perempuan-laki-laki), pancuran kaapit sendang (anak tiga, perempuan-laki-laki-perempuan) dan lain sebagainya.
"Terakhir untuk sempurnanya ruwat, kita gelar wayang kulit dengan lakon Purwakala. Purwa berarti asal atau permulaan, Kala berarti bencana. Jadi asal mula dari bencana sehingga diharapkan agar anak cucu yang dianggap apes karena lahirnya agar tidak sial atau selamat," terangnya.
Davitri (35), warga asal Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo ini sengaja datang ke Pendopo Agung Trowulan untuk mengikuti ruwatan. Ia mengaku memiliki susunan anak yang masuk dalam 60 jenis kelahiran versi adat jawa yang masuk kategori perlu dilakukan ruwatan.