Di lain pihak, Hillary Clinton mengutuk rencana Trump melarang Muslim masuk ke Amerika, tetapi mendukung ‘pemeriksaan ketat’ terhadap pengungsi dari Suriah dan negara lain. Dalam perdebatan sebelumnya, Hillary mengatakan, tidak akan membiarkan siapa pun masuk ke AS jika mereka menimbulkan ancaman bagi Negeri Paman Sam.
Walaupun Trump tidak lagi menonjokan rencana melarang Muslim, Michael O’Hanlon dari Brooking Institution di Washington mengatakan barangkali antara kedua calon tidak banyak perbedaan dalam soal itu. Khawatir teroris dalam negeri sedang tumbuh, keduanya berseru dilakukan upaya mencegah radikalisasi Muslim dalam negeri.
Trump mengatakan ia ingin membentuk Komisi Tentang Islam Radikal untuk membongkar jaringan pendukung radikalisasi yang terdapat di tengah masyarakat. Ujaran-ujarannya yang anti Muslim telah disebut sebagai penyebab meningkatnya kejahatan bernuansa kebencian terhadap Muslim Amerika. Ia mengakui Islamophobia merupakan suatu masalah dan menganjurkan Muslim untuk melaporkan masalah itu jika mengalaminya. Jika tidak maka itu menjadi situasi yang amat sulit bagi negara, katanya.
Di lain bagian, Clinton melihat masyarakat Muslim Amerika yang condong pendukung Demokrat sangat penting dalam menjaga negara dari terorisme dan radikalisme yang lahir dari dalam negeri.
Untuk mengalahkan negara Islam atau ISIS, Clinton dan Trump sama-sama ingin bekerjasama dengan koalisi negara Eropa dan Timur Tengah menggunakan pesawat tanpa awak (drone) dan pasukan operasi khusus terhadap berbagai sasaran terkait ISIS di Irak dan Suriah serta membuat zona larangan terbang di atas Suriah utara.
(Rahman Asmardika)