BANTUL - Eksekusi bangunan di kawasan Pantai Cemoro Sewu, Parangtritis, Kretek, Bantul, Yogyakarta telah usai dilakukan. Puluhan bangunan telah dirobohkan, sebagai langkah menuju restorasi zona inti gumuk pasir.
Namun, bagaimana awal mula keberadaan bangunan di kawasan tersebut? Parwanto, salah satu pengelola sekaligus perintis wisata gumuk pasir di Cemoro Sewu mengatakan, sejak 2007 silam dirinya membuka objek wisata itu, gelombang pengunjung terus meningkat setiap tahunnya. Jika saat liburan, pendapatan parkir yang dikelolanya mencapai Rp500 ribu dalam sehari.
Kondisi ramai itulah yang kemudian membuat dirinya berkeputusan mendirikan bangunan semi permanen, tepat di sisi objek wisata. Tak hanya warung makan, bangunan itu juga dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan musala.
“Terutama kamar mandi. Itu adalah kebutuhan wajib pengunjung. Sekarang bangunan kamar mandi itu sudah rata dengan tanah. Saya khawatir, pengunjung akan malas datang ke sini,” keluhnya, seperti dikutip dari Harianjogja.com, Sabtu (17/12/2016).
Takdir sedikit berkata lain, setidaknya dua hari pasca-pembongkaran paksa itu dilakukan, pengunjung masih saja datang. Dari situlah ia berharap mimpi itu kembali terwujud. “Sampeyan lihat saja sendiri. Ada dua bus penuh pennumpang dating,” ujarnya.
Hal sendada diungkapkan Sarmi. Perempuan paruh baya ini juga sudah puluhan tahun tinggal di Cemoro Sewu, tepatnya berjarak beberapa puluh meter di sisi Barat objek wisata itu. Sambil menyuapi Angga, cucunya, Sarmi berkisah betapa warung makan bisa menjadi penghidupannya selama ini.
Ia merasa berjasa atas terciptanya surga baru bagi warga itu. Betapa tidak, sebelum ia dan warga datang, kawasan Cemoro Sewu dulunya adalah belantara belukar. Nyaris tak ada seorang pun warga berani melintas di wilayah itu, terutama ketika menjelang malam. Kawasan itu, dulunya adalah sarang dedhemit.
Begal, garong, dan para pencoleng pun menjadikan kawasan itu sebagai surga pelarian diri mereka dari kejaran aparat dan pemuda desa. Karena itulah, ia menganggap warga tak pelak berjasa besar untuk membuat kawasan itu menjadi seperti sekarang.
Memang, ia tak kuasa menunjukkan lembaran izin mendirkan bangunan yang kini rata dengan tanah itu. Ia pun kebingungan saat menjelaskan asal muasal kapling tanah yang ia tempatinya. Ia hanya tahu bahwa rumah itu dalam belasan tahun terakhir menjadi sumber penghidupannya. Tak hanya sebagai tempat berteduh dari panas dan hujan, rumah itu pula yang membuatnya bisa bertahan dari kerasnya kehidupan.
Ia menjelaskan, rumah itu dibangunnya dari hasil penjualan rumah lamanya. Ketika itu, ia terpaksa menjual rumahnya di Grogol VII lantaran butuh uang untuk pengobatan anaknya yang tengah sakit.
Warung sederhana yang ia buka di rumahnya, ditambah dengan warung dadakan yang ia gelar setiap kali pantai tengah ramai kunjungan. Jika benar-benar pantai sedang ramai, ia pun bisa meraup laba hingga Rp200 ribu sehari. “Lumayan,” timpalnya.
Itulah sebabnya, kini ia hanya berharap agar pemerintah segera memberikan kejelasan pada nasib mereka. Berlama-lama di tenda pengungsian, jelas semakin membuat mereka kesulitan dalam menganyam mimpi untuk kembali bangkit mencari penghidupan. Belum lagi kondisi anak dan cucu mereka yang masih rentan. Usia bocah jelas tak menuntut mereka untuk memahami persoalan apa yang dihadapi para orang tua mereka.
“Waktu pembongkaran, anak saya yang berumur enam tahun, saya ungsikan jauh agar dia tidak melihat saat rumah tempat dia lahir dirobohkan paksa,” kata Parmonah menimpali.
Berlama-lama di tempat pengungsian pun dikhawatirkannya akan berdampak buruk pada kesehatan anaknya. Beruntung, dua hari ini tak turun hujan. Tapi jika turun hujan, ia tak berani membayangkan betapa menderita anaknya nanti saat bertahan menangkis dingin tanpa ada bangunan yang melindunginya. “Semoga saja tidak hujan,” harapnya.
(Fransiskus Dasa Saputra)