Warung sederhana yang ia buka di rumahnya, ditambah dengan warung dadakan yang ia gelar setiap kali pantai tengah ramai kunjungan. Jika benar-benar pantai sedang ramai, ia pun bisa meraup laba hingga Rp200 ribu sehari. “Lumayan,” timpalnya.
Itulah sebabnya, kini ia hanya berharap agar pemerintah segera memberikan kejelasan pada nasib mereka. Berlama-lama di tenda pengungsian, jelas semakin membuat mereka kesulitan dalam menganyam mimpi untuk kembali bangkit mencari penghidupan. Belum lagi kondisi anak dan cucu mereka yang masih rentan. Usia bocah jelas tak menuntut mereka untuk memahami persoalan apa yang dihadapi para orang tua mereka.
“Waktu pembongkaran, anak saya yang berumur enam tahun, saya ungsikan jauh agar dia tidak melihat saat rumah tempat dia lahir dirobohkan paksa,” kata Parmonah menimpali.
Berlama-lama di tempat pengungsian pun dikhawatirkannya akan berdampak buruk pada kesehatan anaknya. Beruntung, dua hari ini tak turun hujan. Tapi jika turun hujan, ia tak berani membayangkan betapa menderita anaknya nanti saat bertahan menangkis dingin tanpa ada bangunan yang melindunginya. “Semoga saja tidak hujan,” harapnya.
(Fransiskus Dasa Saputra)