Di dalam negeri, menyusul insiden rasial, Presiden Barack Obama berbicara tentang keadaan ras di Amerika. Pembantaian sembilan warga Amerika keturunan Afrika di sebuah kelompok jemaat pemahaman Alkitab pada Juni 2015 memicu presiden untuk mencerminkan tentang kasih yang ditunjukkan oleh keluarga korban yang memaafkan pria bersenjata itu.
Di panggung dunia, Obama memulainya dari kebijakan masa lalu untuk menciptakan sejarah dengan Burma dan Kuba. Di Havana, ia mengulurkan tangan langsung kepada rakyat Kuba:
"Dalam banyak hal Amerika dan Kuba seperti dua bersaudara yang telah terasing selama bertahun-tahun, meskipun kita berbagi darah yang sama," ujarnya.
Obama mengatakan meski waktunya sebagai presiden akan berakhir, jaringan global yang diluncurkannya untuk mendorong pertumbuhan kepemimpinan di kalangan anak muda baru saja bermula.
(Rifa Nadia Nurfuadah)