KISAH: Pencuri Mahkota Inggris yang Diampuni Raja

Rifa Nadia Nurfuadah, Jurnalis
Sabtu 11 Maret 2017 08:01 WIB
Kolonel Blood (kiri) dan mahkota Crown Jewels milik Kerajaan Inggris. (Foto: Vintage News)
Share :

MENCURI mahkota Crown Jewels milik Kerajaan Inggris nampaknya menjadi pekerjaan mustahil, bahkan bagi penjahat kawakan sekalipun. Nyatanya, Thomas Blood berani melakukannya. Tak hanya itu, ia juga mendapat pengampunan dari raja Inggris atas tindak kriminalnya.

Pria yang akrab disapa Kolonel Blood ini merupakan warga Irlandia. Ia lahir di County Meath pada 1618, dan merupakan anak pandai besi.

Keluarganya cukup terpandang. Sang kakek, yang tinggal di Kastil Kilnaboy merupakan anggota parlemen. Blood sendiri menjadi anggota dewan selama masa Perang Saudara di Inggris.

Namun, saat Monarki kembali berkuasa pada 1660, Kolonel Blood kehilangan semua tanahnya. Sebagai pembalasan, pada 1663, ia berkonspirasi untuk menangkap James Butler, Duke of Ormond. Butler adalah Lord Letnan Irlandia dan bermarkas di Kastil Dublin.

Dengan menyamar, dan dengan bantuan para kaki tangannya, Blood mencoba menerobos kastil. Namun rencananya terungkap sebelum berhasil. Sebagian besar anggota komplotannya ditangkap. Tetapi, Blood yang menyamar sebagai pendeta, berhasil melarikan diri ke Belanda. Di Negeri Kincir Air ini ia bersembunyi selama beberapa tahun.

Selama proses restorasi monarki pada 1660, pembuatan tongkat raja untuk penobatan Charles II pada 1661 memakan dana amat besar. Jadi, pada 1671, Kolonel Blood merancang rencana aneh untuk mencuri mahkota Crown Jewels.

Seperti dilansir Vintage News, Sabtu (11/3/2017), rencana Blood amat rumit. Kolonel Blood masuk ke Menara dengan menyamar sebagai pendeta. Ia lalu mendapatkan kepercayaan dari Sang Penjaga, Talbot Edwards. Blood berjanji akan menikahkan keponakan imajinernya dengan anak perempuan Edward. Blood dan kaki tangannya pun akhirnya mengetahui detail pengamanan kerajaan.

Pada 9 Mei 1671, rencana tersebut pun dijalankan. Blood membujuk Edwards untuk menunjukkan Crown Jewels kepada teman-temannya. Komplotan itu lalu mengikat dan menyumpal mulut Edwards. Sang Penjaga berhasil membunyikan alarm sehingga para pencuri bisa ditangkap. Blood dipenjara di Menara. Ia menolak berbicara kepada siapa pun kecuali kepada Sang Raja.

Dengan tangan dan kaki diikat rantai, Blood lalu dibawa ke istana. Di sana ia diinterogasi oleh Raja Charles, Pangeran Rupert dan pejabat kerajaan lainnya.

"Bagaimana jika saya mengampuni hidupmu?" tanya Raja Charles kepada Blood.

Blood menjawab, "Saya akan amat menghargainya, Tuanku!"

Tak hanya diampuni atas kejahatannya, Raja Charles juga memberikan sebidang tanah di Irlandia kepada Blood.

Alasan raja mengampuni Blood tidak pernah diketahui. Sebagian sejarawan berspekulasi, raja mungkin mengkhawatirkan aksi balas dendam lainnya yang terinspirasi dari tindakan Blood. Sebagian lainnya menduga, raja terkesan dengan keberanian Blood dan terhibur dengan pernyataan Blood bahwa mahkotanya hanya bernilai sekira 6.000 poundsterling. Nyatanya, harga mahkota itu mencapai 100 ribu poundsterling.

Ada juga yang menduga bahwa raja tersanjung setelah Blood mengaku pernah berniat membunuhnya setelah melihat raja mandi di Sungai Thames. Tetapi rencana itu dibatalkan karena Blood terpukau oleh keagungan sang raja. Spekulasi lainnya adalah, aksi kriminal Blood bisa jadi merupakan buah persekongkolannya dengan raja mengingat raja sedang kesulitan uang.

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya