Alih-alih bergabung dengan eksodus, Angeline menolak meninggalkan rumahnya di Seattle. Ia tetap tinggal di kabinnya yang terletak di depan sungai di Western Avenue, di antara Jalan Pike dan Pine Streets, dekat dengan kawasan yang sekarang menjadi Pasar Pike Place.
Angeline meraih gelar 'putri' tidak hanya karena garis keturunan ayahnya, tetapi juga keberanian dan perilakunya yang bermartabat meski mengalami situasi sulit.
Putri Angeline bertahan dengan akar budayanya, namun ia tetap harus mencari nafkah. Untuk menyambung hidup, Angeline menjadi buruh cuci bagi para pendatang, dan menjual kerajinan tangan asli India seperti keranjang yang ia buat di sore hari. Demikian disitat dari Vintage News, Minggu (28/5/2017).
Putri Angeline hidup di dua dunia yaitu dunia yang perlahan menghilang dan menjadikannya seperti hantu, serta dunia lainnya di mana ia sendirian dan miskin.
Seiring bertambahnya usia, Angeline mengidap artritis. Tetapi itu tidak menghentikan aktivitas sehari-harinya. Ia menjadi figur yang dikenal sepanjang jalan di Seattle, dengan syal dan sapu tangan merah sebagai penutup kepala. Semua penduduk lokal juga dekat dengan Angeline.