DI EROPA, umat Islam termasuk minoritas. Menjalani ibadah puasa di Benua Biru memang menjadi tantangan tersendiri bagi komunitas Muslim di sana. Belum lagi bulan baik ini seringnya jatuh pada musim panas, ketika siang lebih lama dibandingkan malam.
Kanselir Jerman Angela Merkel saat hadiri iftar. (Foto: MWN)
Seorang pelajar di Jerman, Frederik Richter, menggambarkan bagaimana atmosfer Ramadan di Eropa bagian barat itu berbeda sekali dengan di negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Tidak ada yang namanya jalan lenggang pada siang hari karena restoran tutup dan jajanan pinggir jalan setelah matahari terbenam.
Ali Ozkan, Muslim yang tinggal di Berlin mengatakan, justru pada saat Ramadan kehidupan orang Islam lebih tersorot. Para pekerja yang berpuasa pasti tidak akan ikut makan pada siang hari dan akan minta izin berbuka dan salat kala hari sudah gelap. Itu pun harus dilakukan dengan cepat.
Lain lagi di Swedia. Islam adalah agama nomor dua di negara tersebut. Sehingga pemerintah tidak begitu memperhatikan komunitas Muslim. Pendiri Muslim Women Assembly, Nailah Hamdy mengungkap, permasalahan terbesar jelang Ramadan adalah menentukan tanggal pertama puasa dan hari kemenangan.
“Di sini ada Islamic Centre, tetapi tidak bisa menjangkau seluruh Muslim di Swedia. Dan media di Swedia sama sekali tidak menyediakan informasi soal itu. Jadi akhirnya, kebanyakan dari kami mengikuti hilal yang terlihat di Makkah untuk tahu awal Ramadan dan Idul Fitri,” catatnya, seperti disunting dari CommunityTimes.me, Jumat (16/6/2017).
Ilustrasi. Muslim Tentara AS salat bareng. (Foto: Army)
Di Amerika Serikat, kemeriahan Ramadan hanya bisa terjadi berkat keaktifan komunitas Muslim setempat dalam melestarikan tradisinya. Komunitas Muslim di sana seringnya memanfaatkan Ramadan untuk berzikir, diskusi Quran dan Hadits, sahur dan iftar bersama, meditasi individu dan introspeksi diri. Intinya ialah mendekatkan diri kepada Allah lebih lagi. Tak lupa, mereka juga bersedekah untuk membantu sesama yang membutuhkan.
Abu Sulaiman di Ottawa, Kanada mengaku kesulitan menyesuaikan jadwal berbuka dan puasa. Bahkan untuk salat lima waktu pun menjadi tantangan tersendiri baginya, terutama saat memasuki musim dingin. Selama Ramadan, dia seringnya masih bekerja ketika azan berkumandang dan seharusnya sudah waktu berbuka puasa.