Namun, Azam menyanggah keterangan polisi dengan membandingkan keterangan istri Hermansyah, Irina, yang mengatakan bahwa tidak ada peristiwa senggolan mobil sebelum pembacokan terjadi.
"Padahal istrinya bilang tak ada senggolan. Yang mana yang benar? Kalau pun motifnya faktor senggolan, masa iya pelaku langsung keroyok (dengan) banyak (orang) gitu? Lalu katanya (pelaku) mabuk dan pulang dari dugem. Apa iya orang mabuk bisa masuk ke tol nyetir (mobil)? Jadi, kesimpangsiuran ini tolong disimpulkan secara jelas agar tak terjadi syak wasangka," terang Azam.
Selain itu, ia juga mengkritisi perlakuan aparat kepolisian kepada para pelaku yang berhasil diringkus. Sekadar diketahui, dalam media sosial beredar pejabat Korps Bhayangkara di Ibu Kota duduk semeja dengan pelaku pembacokan Hermansyah.
"Di medsos itu berkembang digambarkan seorang preman yang istimewa. Menurut hemat saya, seharusnya seorang pelaku kejahatan yang (sudah dinyatakan) tersangka etikanya itu tak harus ditaruh di satu ruangan berkumpul dengan Kapolda, Kapolres, diberi makan dan minum," terangnya.
"Itu etiknya di mana? Apakah itu berlaku juga di kasus lainnya? Apakah ada sanksi? Tidak ada. Kenapa pada saat berkumpul itu tidak langsung diganti pakai kaus oranye (tahanan)? Kan sudah ada pernyataan resmi (sebagai tersangka). Itu kenapa tidak? Malah kelihatanya (pelaku) santai dan rileks. Wajar kalau masyarakat timbul tanda tanya," sambung Azam.