Peran Donald Trump dan Amerika Serikat di Balik Sanksi Terbaru PBB atas Korut

Silviana Dharma, Jurnalis
Senin 07 Agustus 2017 06:29 WIB
Presiden Trump saat bertemu Presiden Xi. (Foto: Getty Images)
Share :

WASHINGTON – Dewan Keamanan PBB yang total berjumlah 15 orang, sepakat menjatuhkan sanksi lebih menekan kepada Korea Utara. Resolusi itu dikeluarkan guna menghentikan Korut mengembangkan senjata pemusnah massal dan memprovokasi kemarahan dunia dengan rudal-rudalnya.

Melansir Independent, Senin (7/8/2017), kebulatan pemungutan suara tersebut diambil sebulan setelah perundingan antara China dan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump mengkritik Negeri Tirai Bambu karena tidak memberikan cukup tekanan kepada sekutunya.

"TIDAK ADA yang China lakukan terhadap Korea Utara untuk kita, China hanya bicara,” tukas Trump melalui akun Twitter miliknya.

(Baca juga: PBB Jatuhkan Sanksi Baru Atas Korut, AS Peringatkan: Kami Tidak Main-Main)

Awal bulan ini, Gedung Putih bergerak untuk mulai menyelidiki praktik perdagangan China. Sejumlah pihak menilai langkah ini dilakukan sebagai pembalasan atas kelambanan Negeri Panda mengendalikan Korea Utara.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi, bertemu dengan diplomat tinggi Korea Utara, Ri Yongho saat pertemuan Menlu se-ASEAN di Manila, Filipina. Dia mengeluarkan peringatan yang tidak biasa untuk negara tersebut.

"Jangan melanggar keputusan PBB atau memprovokasi niat baik masyarakat internasional dengan melakukan peluncuran rudal atau uji coba nuklir," tegasnya kepada Ri.

(Baca juga: Tegas! Trump: Kami Akan Tangani Korea Utara)

Setelah peringatan keras tersebut, Gedung Putih mengucapkan terima kasih kepada China dan Rusia atas kerjasama mereka.

"[Presiden Trump] akan terus bekerja sama dengan sekutu dan mitranya untuk meningkatkan tekanan diplomatik dan ekonomi terhadap Korea Utara demi mengakhiri perilaku mengancam dan merusak stabilitas kawasan,” kata Gedung Putih menekankan.

Korut melakukan dua kali uji coba peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) yang digembar-gemborkan dapat menghancurkan daratan AS. Jika informasi itu benar, maka perkembangan senjata nuklir Korut telah menunjukkan tingkat kemajuan yang mengejutkan bagi Pentagon. Kementerian Pertahanan AS itu memprediksi Pyongyang bisa memiliki ICBM yang berkemampuan nuklir pada 2018.

(Baca juga: Badan Intelijen AS: Rakyat Korut Senang jika Kim Jong-un Lengser)

Tidak hanya Korea Selatan selaku negara terdekat yang merasa terancam dengan kemampuan nuklir Korut. Jepang yang sering jadi sasaran uji coba rudal Korut pun geram dibuatnya.

AS menanggapi uji coba rudal balistik terakhir Korut dengan menerbangkan dua pesawat bomber supersonik di atas Semenanjung Korea. Tentunya hanya sebagai aksi unjuk kekuatan. Angkatan udara AS juga memamerkan keberhasilan menguji ICMB-nya yang berada di California.

Sementara kebanyakan negara menilai Korut sebagai pembuat onarnya, Kim Jong-un cs sebaliknya, menuduh Amerika Serikat dan Korea Selatan berperan aktif meningkatkan ketegangan dengan melakukan latihan militer gabungan.

(Baca juga: DK PBB Jatuhkan Sanksi Tambahan Untuk Korut)

Ketegangan di Semenanjung Korea memicu beberapa pejabat AS melontarkan pernyataan bahwa Negeri Paman Sam siap menggunakan kekuatan penuh melawan rezim Korea Utara, jika diperlukan.

"Presiden Trump sangat jelas. Dia tidak akan menoleransi Korea Utara maupun membiarkan negara itu mengancam AS. Jadi tentu saja, kami harus menyediakan semua opsi, termasuk mengerahkan kekuatan militer untuk menekan Korut," kata penasihat keamanan nasional HR McMaster.

Senator Lindsey Graham mengatakan pekan lalu bahwa dia telah membahas opsi militer dengan Presiden Trump secara pribadi.

"Jika ribuan orang meninggal, mereka akan mati di sana. Mereka tidak akan mati di sini dan Presiden Trump telah mengatakan hal itu di depan muka saya,” ungkapnya.

(Fetra Hariandja)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya