JAKARTA - Rasio jumlah polwan (polisi wanita) di Indonesia lebih rendah dibandingkan kepolisian di negara lain. Hal itu dikatakan kapolri Jendral Tito Karnavian.
Menurut Tito, dari segi kuantitas jumlah Polwan di Indonesia hanya sekitar lima persen. "Saya lihat di Australia jumlah polwannya di atas 20 persen. Singapura 25 persen," tambah Tito dalam acara hari ulang tahun (HUT) Polwan ke-69 di auditorium Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Jakarta Selatan, kemarin.
Tak hanya menyangkut kuantitas, lanjut Tito, di sejumlah negara polwan tercatat menempati sejumlah jabatan strategis di kepolisian. "Di London, Kepala Antiterornya polwan. Di Australia, Deputi Kepolisiannya polwan," tambahnya.
Pihaknya mengakui di Polri ada persoalan dalam pembinaan karir polwan. Menurut dia, dulu ada banyak polwan senior yang lulus dari PTIK (sekarang STIK) sehingga memiliki kesempatan karir sejajar dengan polisi laki-laki. Namun setelah Polri melebur dengan ABRI, penerimaan taruni dihilangkan.
"Itu terjadi cukup lama dari 1967 sampai 1998 kita tidak punya polwan dari Akademi," katanya.
Setelah era pemerintahan Presiden Megawati Sukarnoputri, rekrutmen taruni baru dibuka kembali.
Kapolri berpendapat, keberadaan polwan di Kepolisian sangat penting. Menurut dia, polwan memiliki sejumlah kelebihan dibanding polisi laki-laki dalam menjalankan tugas, di antaranya polwan mampu bertindak lebih humanis dan mampu menjalin kedekatan yang baik dengan bawahan.