NEW YORK – Pemerintah Iran merespons keras pidato yang disampaikan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada pembukaan Sidang Majelis Umum PBB di New York. Dalam pidato tersebut, Trump menyebut Iran sebagai sebuah kediktatoran yang korup dan “negara penipu” serta mendesak dibatalkannya kesepakatan program nuklir yang telah disepakati Teheran dengan negara-negara besar dunia, termasuk AS.
BACA JUGA: Tanggapi Pidato Trump di Sidang Majelis Umum PBB, Korsel Berharap Korea Utara Tersadar
Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif meradang mendengar pidato tersebut. Dia menyebut apa yang dikatakan Trump di depan para diplomat di PBB sebagai sebuah ujaran kebencian.
"Ucapan kebencian yang bodoh dari Trump pantasnya berada di abad pertengahan, bukan di abad ke-21 di PBB dan tidak layak mendapat jawaban," kata Zarif sebagaimana dikutip dari The New Arab, Rabu (20/9/2017).
Zarif juga menyuarakan kekesalannya terhadap klaim Trump yang menyebut pihak paling menderita dari tindakan pemerintah Iran adalah rakyat negeri itu sendiri. Zarif menilai apa yang dikatakan Trump tersebut sebagai sebuah simpati palsu kepada rakyat Iran.
Selain mengecam Pemerintah Iran, Trump juga bersumpah untuk menghalangi segala upaya Iran dalam mengembangkan persenjataan, seperti program rudal balistik yang saat ini dijalankan Teheran. Bukan hanya Iran, Trump juga menujukan pidatonya kepada beberapa negara lain yang berdiri berseberangan dengan kebijakan AS, termasuk Korea Utara (Korut) dan Venezuela.
Trump juga bukan satu-satunya pemimpin dunia yang mengecam Iran dalam pidatonya di PBB. Senada dengan Trump, Perdana Menteri (PM) Israel, Benyamin Netanyahu juga menyuarakan kecaman serupa terhadap pemerintahan Presiden Hassan Rouhani dan Kepemimpinan Ayatolah Khamenei.
Kesepakatan mengenai program nuklir Iran memang menjadi salah satu agenda yang dibawa Trump pada Sidang Majelis Umum PBB kali ini. Perjanjian yang disepakati pada 2015 antara Iran dan enam negara dunia, Inggris, AS, Rusia, China, Prancis dan Jerman itu menyatakan Teheran akan menghentikan program nuklirnya sebagai ganti dari pencabutan sanksi internasional terhadap Iran.
(Rahman Asmardika)