Pengakuan Yerusalem Ibu Kota Israel Ancam Stabilitas Politik & Keamanan Dunia

Reni Lestari, Jurnalis
Sabtu 09 Desember 2017 08:02 WIB
Massa berdemo terkait klaim AS soal Yerusalem. (Foto: Antara)
Share :

JAKARTA - Ketua Umum PP Pemuda Muhammdiyah Dahnil Anzar Simanjuntak menilai, keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel membahayakan stabilitas politik dan keamanan dunia. Selain jelas akan mempengaruhi situasi politik di Timur Tengah, keputusan ini sangat mungkin dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok radikal untuk melancarkan aksi teror

"Sikap ini bisa menyulut konflik yang lebih besar di seluruh bagian dunia, dan ini konfliknya bukan di Yerusalem saja, ini kan seolah-olah Trump sedang menebar konflik dari Yerusalem ke seluruh dunia," kata Dahnil kepada Okezone, Sabtu (9/12/2017).  

Yerusalem, lanjut Dahnil, merupakan simbol dialog tiga peradaban dan tiga agama besar dunia. Keputusan mengenai wilayah tersebut, oleh PBB diharuskan melibatkan kesepakatan dua pihak, Palestina dan Israel. Keputusan Donald Trump mengakui sepihak Yerusalem sebagai ibu kota Israel akan merusak dialog itu sendiri, dan berpotensi memunculkan konflik yang lebih luas.  

"Kalau dialog itu dirusak maka ya akan terjadi konflik besar. Dan yang dilakukan Trump adalah upaya merusak dialog, seolah-olah menegasikan keberadaan peradaban Islam disitu melalui Al-Quds, mengabaikan peradaban Kristen melalui gereja suci Krist," jelas dia.

(Baca juga: 5 Dampak Politis Rencana Pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya