GAZA – Warga Kristen Palestina yang berada di wilayah Gaza yang diblokade turut merayakan Natal meski masih terpengaruh oleh situasi yang terjadi di kawasan itu, terutama pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel yang diumumkan oleh Amerika Serikat (AS). Isu tersebut juga masih menjadi perhatian dalam pesan Natal yang disampaikan di Gereja Latin Kristen Katolik di Gaza.
BACA JUGA: Paus Fransiskus Berharap Konflik Palestina-Israel Diselesaikan dengan Solusi Dua Negara
“Yerusalem adalam tempat lahir dari kedamaian dan cinta kasih. Kami tidak mau Yerusalem menjadi tempat krisis dan perselisihan,” demikian disampaikan Uskup Agung Mario da Silva sebagaimana dilansir Middle East Monitor, Selasa (26/12/2017).
Warga Palestina yang datang dalam upacara Natal di Gaza berdoa untuk masa depan Palestina yang damai dan persatuan dengan seluruh dunia guna mengakhiri pendudukan Israel di wilayah itu. Para jemaat sepakat dan menegaskan bahwa pendudukan Israel adalah sumber bahaya baik bagi penganut Islam dan Kristen di Palestina.
Sementara itu Presiden Palestina, Mahmoud Abbas menghadiri upacara misa di Gereja Kelahiran di Betlehem pada malam Natal, 24 Desember. Acara itu juga dihadiri oleh Perdana Menteri Palestina, Rami Hamdallah, Menteri Luar Negeri Malta, Carmelo Abela, Menteri Pariwisata Yordania, Lina Anab dan sejumlah duta besar dan utusan negara-negara asing.
BACA JUGA: Kota Mosul Rayakan Natal Pertama Setelah kekalahan ISIS
Kehadiran Abbas dan Hamdallah dalam misa tahunan di Betlehem merupakan tradisi yang telah berlangsung selama beberapa tahun belakangan. Upacara misa tersebut juga selalu berhasil mengundang ratusan pengunjung dari seluruh dunia.
(Rahman Asmardika)