Dedi Mulyadi: Cirebon Penuhi Kualifikasi sebagai Pusat Peradaban

Dwi Ayu Artantiani , Jurnalis
Senin 02 April 2018 11:21 WIB
Dedi Mulyadi di Cirebon (Foto: Dwi Ayu/Okezone)
Share :

CIREBON - Calon Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi meyakini Cirebon bisa menjadi pusat peradaban, hal ini dikatakannya saat mengunjungi Pesantren Raja’ul ‘Ulum Hidayah al Isma’iliyah, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

"Cirebon sudah memenuhi kualifikasi sebagai pusat peradaban. Hal ini terlihat dari narasi ajaran peninggalan Sunan Gunung Jati di daerah tersebut," ungkap Dedi, Senin (2/4/2018).

Bahkan, katanya, ajaran tersebut telah ada sejak Pangeran Cakrabuana atau Ki Shamadullah yang bergelar Sri Mangara Cakrabuana menjadi penguasa daerah itu. Narasi-narasi itu bukan hanya berisi ajaran. Tetapi, di dalamnya juga ada tentang arsitektur bangunan, tata pemerintahan, makanan dan pakaian. Sehingga, seluruh kekayaan ini harus dikapitalisasi dan dieksplorasi.

Eksplorasi tersebut, lanjutnya, dapat berupa penelitian sejarah. Hasilnya, menurut dia, harus diartikulasikan ke dalam strategi pembangunan di wilayah tersebut. Eksplorasi dan pemeliharaan terhadap kultur Cirebon memiliki implikasi besar. Diantaranya, Cirebon yang secara geografis termasuk ke dalam wilayah Provinsi Jawa Barat ia nilai dapat menyaingi Daerah Istimewa Yogyakarta.

(Baca Juga: Ketika Dedi Mulyadi Diarak Naik Kereta Kencana Paksi Naga Liman)

“Kita harus berangkat dari sejarah dulu, kemudian dari sana ada kesimpulan. Hasil penelitian itulah kita masukan ke dalam langkah-langkah pembangunan,” ujarnya.

Dedi menegaskan, aspek pariwisata dapat mendatangkan nilai tambah yang besar bagi sebuah daerah. Karena itu, situs religi seperti makam Sunan Gunung Jati, makam Syaikh Datuk Kahfi harus tetap terjaga dengan baik.

“Batik trusminya kan sekarang sudah berjalan dengan pesat. Pengelolaannya nanti lebih dimaksimalkan dalam seluruh aspek, makanan, kesenian, dan seluruhnya. Kalau ini kita lakukan, kita bisa menyaingi Yogya,” ucapnya.

(Baca Juga: Solusi Dedi Mulyadi untuk Mahalnya Biaya Listrik bagi Para Lansia)

Selain itu, tambah Dedi, keberadaan Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman juga tidak luput dari pemikiran budayawan Jawa Barat tersebut. Keduanya, kata dia, memberikan ruh bagi kehidupan warga Cirebon. Seluruh sakralitas ini adalah modal kepariwisataan.

"Tentu, harus terkelola dengan manajemen kekinian,” ungkapnya.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya