"Twitter bertujuan memberikan platform dimana suara yang terpinggirkan dapat dilihat dan didengar. Ini adalah hal mendasar terkait dengan siapa kita dan sangat penting bagi keefektifan layanan kami," demikian pernyataan resmi yang diterima BBC.
Baca juga: Mau Dideportasi, 33 Imigran Sri Lanka yang Terdampar di Nias Diboyong ke Sibolga
Menjadi dramatis
Senin pagi, keadaan semakin memburuk dengan kedatangan pejabat imigrasi Thailand di kamar hotel Rahaf untuk mendeportasinya ke Kuwait.
Lewat percakapan langsung di Twitter, Rahaf mengikuti masukan Human Rights Watch: untuk tidak menyerahkan telepon genggamnya, sama sekali.
Dan ini menjadi hal yang sangat penting.
Remaja panik yang berlindung pada wartawan Australia, Sophie McNeill itu menolak menaiki pesawat. Dia terus menerus mendokumentasikan pengalamannya di Twitter.
Pengikutnya berlipat dua menjadi lebih 66.400 orang.
Wartawan Asia Tenggara BBC, Jonathan Head, yang menjadi bagian dari jaringan wartawan asing yang terus mengikuti kasus Rahaf al-Qunun mengatakan perhatian sangat besar yang didorong media sosial adalah faktor penting terhadap yang terjadi pada Rahaf.
"Rahaf Mohammed al-Qunun adalah seorang perempuan muda yang ketakutan. Perhatian pada nasib Rahaf mempengaruhi dukungan di Twitter saat pemerintah Thailand berencana mendeportasinya pada hari Senin pagi.