BANGKOK - Pada Sabtu malam 5 Januari 2019, suatu keadaan membahayakan terungkap lewat sebuah akun baru Twitter.
Rahaf Mohammed al-Qunun, 18 tahun, yang melarikan diri dari keluarganya di Kuwait, mengirimkan serangkaian cuitan memohon pertolongan dari sebuah kamar hotel di Bangkok.
"Saya anak perempuan yang melarikan diri ke Thailand. Saya sekarang dalam keadaan bahaya karena kedutaan besar Arab Saudi mencoba untuk memaksa saya pulang," demikian isi cuitan pertamanya dalam bahasa Arab.
Baca juga: Kabur dari Keluarga karena Diancam Dibunuh, Kasus Perempuan Saudi Ini Ditangani PBB
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang banyak mendapat perhatian, "Saya ketakutan. Keluarga saya akan membunuh saya."
Orang melihatnya dan cuitan pertama dengan tagar #SaveRahaf dikirimkan.
Beberapa menit kemudian pegiat Amerika asal Mesir, Mona Eltahaway menerjemahkan cuitan ke dalam bahasa Inggris dan mengirimkannya ke ratusan ribu pengikutnya.
Beberapa jam kemudian cuitan tersebut diperhatikan Human Rights Watch dan akhirnya wakil direktur Asia LSM itu di Bangkok, Phil Robertson, mengirimkan hal ini.
Baca juga: Sejumlah Migran Nekat Berenang & Naik Rakit untuk Masuk ke Amerika
Satu hari berikutnya, pada Minggu dini hari, dia bertukar pesan Twitter secara langsung dengan Mohammed al-Qunun, memandu perempuan muda tersebut saat berurusan dengan petugas bandara.