Baca juga: Tolong! 3 Hari Terombang-ambing di Laut, Puluhan Imigran Asal Sri Lanka Terdampar di Nias
"Ini adalah sebuah cerita kemanusiaan yang sangat kuat, terjadi saat itu juga, yang tidak pasti akan berakhir seperti apa."
"Terkait dengan penciptaan dukungan dan respon terhadap keadaan krisis, Twitter adalah alat media sosial yang tepat bagi Rahaf Mohammed al-Qunun karena memungkinkan berbagi informasi dengan cepat," kata Phil Robertson.
"Peningkatan dukungan di Twitter (tidak hanya) diperhatikan wartawan dan editor, hal ini juga mengundang perhatian media umum Thailand. Cuitannya juga menarik perhatian diplomat setempat disamping pejabat tinggi UNHCR dan pemerintahan.
Ini sangat penting dalam mendesak Thailand memikirkan ulang pendekatan mereka, begitu sudah jelas bahwa Rahaf Mohammed al-Qunun tidak akan berdiam diri."
"Minggu malam, para pejabat Thailand berkeras bahwa dia akan dikirim pulang dan media Thailand masih belum melaporkan berita ini, tetapi pada Senin pagi keadaan berubah," lapor wartawan BBC Jonathan Head.
Sekarang Rahaf al-Qunun telah aman, dia dinyatakan sebagai pengungsi oleh PBB.
Rahaf Mohammed al-Qunun yang masih muda dan trampil menggunakan medsos berhasil mengambil alih kendali dengan menghimpun kampanye menyelamatkan kehidupannya lewat internet.
Di akhir peristiwa ini dia memiliki 126.000 pengikut di Twitter. Selama lima hari akunnya terus aktif.
Pada kasus lain di mana media sosial digunakan dalam cara yang sama, seorang pria Suriah yang terdampar di bandara Malaysia selama berbulan-bulan, berhasil mendapatkan suaka di Kanada setelah berkampanye di Twitter dan Facebook.
Tetapi memang tidak semua orang yang terancam nyawanya seberuntung mereka.
(Fakhri Rezy)