BANDUNG - Warga perumahan di Desa Mekarwangi, Lembang, Bandung, diresahkan kehadiran puluhan monyet yang dilaporkan mengambil makanan dan merusak rumah mereka.
"Gerombolan monyet itu merusak rumah, genteng bocor, kabel putus, kanopi penyok dan sebagainya," kata Zaki, warga setempat yang juga pengurus Rukun Warga daerah itu, seperti dilansir dari BBC Indonesia, Kamis (31/1/2019).
"Jadi kalau kita menanam buah-buahan, percuma karena diduluin mereka," ujar Zaki. Gangguan monyet itu dirasakannya sejak dua tahun lalu. Daerah ini berdekatan dengan kawasan konservasi Taman Hutan Raya (Tahura).
Zaki mengatakan telah mengeluarkan uang sebesar Rp20 juta untuk meminta bantuan otoritas terkait untuk menangkap monyet-monyet tersebut.
Namun, dia merasa cara itu bukan solusi yang tepat, karena mereka "datang lagi dan lagi".
"Solusinya enggak jelas, kita sudah mengikuti arahan dari BBKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam), nyatanya ya begitu," ujarnya kepada wartawan.
Mengapa monyet-monyet itu mendatangi perumahan warga?
Menurut Kantor Dinas Kehuhatan Jawa Barat, kawasan Konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) mengalami overpopulasi (kelebihan populasi) Monyet Ekor Panjang.
Akibatnya, monyet kekurangan sumber makanan di habitat aslinya, lalu keluar dari hutan dan mencari makan ke pemukiman di sekitar kawasan Tahura, kata pejabat Dishut Jabar.
Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Jawa Barat, Epi Kustiawan menyebutkan, populasi monyet dengan nama latin Macaca fascicularis ini mencapai lebih dari 600 ekor.
"Jumlah itu terlalu padat bagi kawasan Tahura yang luasnya hanya 528 hektar," kata Epi.
Apalagi, kawasan Tahura berbentuk seperti keris yang lurus memanjang sehingga ruang jelajah monyet terbatas, tambahnya.
Menurutnya, tumbuhnya pemukiman di sekitar Tahura juga turut memancing monyet keluar dari habitatnya.
"Overpopulasi iya, di atas 600 ekor. Sudah over karena home range-nya kecil Tahura itu. Karena kecil, sehingga dia ke rumah penduduk cari makanannya," katanya.
Terjadinya overpopulasi Monyet Ekor Panjang, katanya, disebabkan kelahiran monyet yang tidak terkendali. "Hewan primata itu memiliki sex ratio yang tinggi," ujar Epi.
Satu monyet jantan bisa mengawini 25 ekor monyet betina dengan tingkat kelahiran lebih dari 3 ekor per sekali kelahiran.
Belum temukan cara untuk mengendalikan
Dinas Kehutanan Jabar sebagai pengelola Tahura mengaku belum menemukan cara untuk mengendalikan kelahiran Monyet Ekor Panjang.
Hingga kini, ungkap Epi, belum terpikir untuk melakukan sterilisasi, khususnya pada monyet jantan.
"(Sterilisasi) belum. Saya juga belum mempelajari caranya. Saya kira itu menarik juga kalau dipelajari. Metodenya bisa si raja monyetnya disterilkan. Cuma nangkap rajanya gimana, susah," kata Epi.