Bahkan sebelum menjabat, Lopez Obrador mengadakan referendum mengenai pembangunan sebagian Bandara Mexico City bernilai 13 miliar dolar. Ia menggunakan hasil referendum itu sebagai lampu hijau untuk membatalkan proyek yang ditentangnya.
Bagi Lopez Obrador, prinsip kebijakan luar negeri Meksiko adalah tidak campur tangan, dan ia menyerahkan urusan itu pada menteri luar negerinya, Marcelo Ebrard.
Tetapi beberapa kritikus mengatakan Meksiko melakukan hal yang diinginkan Presiden Trump dengan menerima program "Tetap di Meksiko" dan membatasi pergerakan karavan para migran Amerika Tengah itu.
Program "Tetap di Meksiko" memaksa pemohon suaka dari Amerika Tengah menunggu penyelesaian kasus mereka dengan tetap berada di perbatasan sisi Meksiko.
(Rachmat Fahzry)