Tumpukan Sampah yang Melebihi Beban
Turut menanggapi, Harry Sihar, Ketua Komisi II DPRD Kota Bekasi mengatakan, tumpukan sampah yang ada di TPA Sumur Batu sudah melebihi beban seharusnya. Dengan adanya tambahan beban dari air hujan, menyebabkan longsor sangat rentan terjadi.
"Memang bebannya sudah terlalu berat. Sampahnya sudah semakin meninggi, sementara lahannya kurang. Secara teknis ada batas ketinggian yang diperbolehkan, yang dianggap wajar, itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup yang tahu persis," kata Sihar.
"Kalau hujan kan ada beban tambahan dari air. Posisi sampah yang diatas terkena air membuat bebannya lebih berat, jadi jomplang. Jadi mengendaplah beban berat dan menekan ke posisi lemah yang ada di samping, sehingga akhirnya terjadi longsor. Itu soal mekanisme, karena pada saat hujan kalau terlalu tinggi itu sudah pasti longsor," paparnya.
TPA Sumur Batu Krisis Lahan dan Sistem Pengolahan Sampah
Menurutnya, ketersediaan lahan di TPA Sumur Batu saat ini sudah sangat berkurang, sementara produksi sampah semakin naik setiap tahunnya. Karena itu ia menilai perlu diadakan sistem pengolahan sampah yang terkonsep dengan baik, supaya tidak terjadi overload hingga terjadi longsor yang terus berulang.
"Perencanaan untuk mengatasi longsor harus terintegrasi, terpadu, punya konsep yang baik, bagaimana pengelolaan TPA secara modern, harus ada cukup lahan, lahannya harus ditambah, ada teknologi untuk pengolahan sampahnya, yang semuanya itu butuh modal. Kalau tidak, nanti ditumpuk-tumpuk. Lahannya habis sehingga ditumpuk diatas," jelasnya.
Dengan ketersediaan anggaran, kata Sihar, tentunya akan semakin mempermudah realisasi konsep pengelolaan sampah skala modern tersebut. Pemkot bisa membeli lahan dan pengadaan sistem pengolahan sampah, misalnya dengan pengadaan alat untuk membakar.
"Dan saya pikir itu sudah dibahas secara nasional karena masalah sampah itu bukan hanya di Bekasi, tapi sudah nasional bahkan mendunia. Negara maju sudah harus bisa mengelola sampah dengan baik. Tapi cepat atau lambat kita harus mengikuti teknologi. Pengembangan suatu kota dalam pengelolaan sampah itu harus ikut teknologi," imbuhnya.
Selain itu, sistem pengolahan sampah yang demikian diyakini akan semakin mempermudah kinerja dinas terkait dalam hal ini Dinas LH. Terlebih dengan pertumbuhan penduduk di Kota Bekasi yang terbilang cukup pesat.
"Jadi pertumbuhan penduduk ini juga paralel dengan penambahan produksi sampah setiap hari. Perlu ada suntikan modal untuk membeli lahan baru. Kemudian juga beberapa teknologi pengolahan sampah, apakah itu dikelola oleh Dinas LH Bekasi atau diserahkan kepada pihak ketiga," katanya.
"Tapi ya seharusnya itu dikelola LH bekerjasama dengan pihak swasta. Kendalanya pihak swasta inikan juga memerlukan modal. Nah modal itu harus dikelola secara profesional. Begitu dikelola ada produksinya yang bisa menghasilkan, entah itu pupuk atau lainnya. Nah itu masih kompleks, karena lahannya tidak memadai," tutupnya.
Genangan Air Mengganggu Operasional Truk Sampah DKI
Sementara itu, Rizky Febriyanto, Kepala Satuan Pelaksana (UPST)TPST Bantargebang menuturkan, genangan air kali Asem yang meluap hingga ke TPST Bantargebang, diakui cukup mengganggu operasional truk sampah Pemprov DKI.
"Secara langsung mengganggu, jadi membuat lambat laju kendaraan truk sampah DKI menuju titik buang," ujarnya.
Ia pun sudah mengkoordinasikan hal ini kepada Pemkot Bekasi, agar lekas bertindak merapikan longsor yang terjadi di zona III TPA Sumur Batu.
"Supaya lebar kali Asemnya normal lagi, yang tadinya lima meter lebih, sekarang kan posisinya nggak sampai satu meter jadinya ada yang kebendung," ungkap Rizky.
Ia menyebutkan ada tiga unit truk sampah milik Pemprov DKI yang terguling akibat ruas jalan yang tertutup genangan air. "Iya ada tiga truk yang terguling karena jalananannya itu batasnya tidak kelihatan sama saluran, jadinya nyeblos," jelasnya.
"Tembok pembatas yang jebol itu juga dampak penyempitan kali Asem akibat turunnya sampah dari longsor itu tadi. Karena zona TPST Bantargebang berdekatan dengan zona II," kata dia.
Ia berharap kali Asem dapat secepatnya dinormalisasi oleh Pemkot Bekasi untuk mengurangi penyempitan dan menghindari terjadinya luapan air kembali.
"Pemkot diharapkan mengambil langkah teknis dengan menurunkan alat berat yang cukup jumlahnya untuk melakukan normalisasi kali Asem, dan pengangkatan sampah yang ada di badan air kali Asem, sehingga penyempitannya bisa dikurangi," pungkasnya.
(Angkasa Yudhistira)