Musamus dibangun di malam hari oleh kawanan semut. Tanpa sepengetahuan manusia atau kehidupan di sekitarnya. Sebab, malam hari rata-rata makhluk hidup menjalani istirahat total atau tertidur.
Ricky menambahkan, Musamus menjadi gambaran semangat luar biasa. “Ada semangat luar biasa yang ditunjukan koloni semut saat membangun Musamus. Mereka bekerja keras di malam hari. Tidak terlihat oleh makhluk lainnya. Artinya, ada pesan tanpa pamrih untuk menghadirkan sebuah karya. Semut-semut ini juga mengajarkan sebuah kemandirian dan kerjakeras,” kata Ricky.
Untuk menghasilkan bangunan tinggi, dibutuhkan waktu sekitar 1-2 tahun. Kehebatan konstruksinya menjadikan Musamus dipilih sebagai lambang Kabupaten Merauke. Musamus juga diadopsi menjadi nama universitas, yaitu Universitas Musamus Merauke. Selain Merauke, fenomena Musamus juga muncul di beberapa negara lainnya. Sebut saja Australia dan Afrika.
“Ada banyak experience yang diberikan bila berkunjung ke Festival Crossborder Sota 2019. Selain konser musik dan beragam konten pendukungya, festival juga memiliki Musamus. Bangunan Musamus sangat menginspirasi. Ada banyak pengetahuan besar di sana. Silahkan datang ke Sota dan nikmatikan beragam keajaibannya,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya.
(Risna Nur Rahayu)