JAKARTA - Suasana menjelang Pemilihan Presiden dan Pemilihan Umum Serentak 2019 lalu telah meningkatkan ketegangan di kalangan warga Indonesia, tetapi indeks perdamaian dunia terbaru menunjukkan angka perdamaian di Indonesia justru meningkat.
Untuk tahun 2019, Indonesia naik 14 peringkat dan kini berada di posisi ke 41 negara paling damai dunia, dan masuk dalam kategori kondisi perdamaian yang tinggi.
Global Peace Index ini dikeluarkan oleh Institute for Economic and Peace (IEP) yang berbasis di Sydney, Australia dengan melakukan penilaian terhadap 163 negara dengan lebih dari 20 kriteria.
(Baca Juga: Serahkan Ratusan Senjata, Bukti Nyata Masyarakat Maluku Inginkan Perdamaian)
Semakin tinggi poin dalam kriteria, maka semakin tidak aman sebuah negara dan Indonesia mendapat poin 1,785. Islandia berada di peringkat pertama dengan poin 1,072, diikuti Selandia baru yang memperoleh poin 1,221 dan Portugal di peringkat ketiga dengan poin 1,274.
Afghanistan berada di peringkat terendah, sementara Suriah naik satu peringkat ke posisi 162, yang masing-masing mendapat poin lebih dari 3,5.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, perdamaian global dan dampak ekonomi dari kekerasan membaik di tahun ini.
Perpecahan Lebih Terasa di Jejaring Sosial
Meski tingkat perdamaian Indonesia meningkat, ketegangan banyak dirasakan oleh warga Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, terutama menjelang Pemilihan Presiden 2019.
Seperti Gayatri, warga Jakarta yang pernah mengatakan kepada ABC Indonesia jika perbedaan pilihan politik telah memicu perpecahan di keluarganya sendiri.
Menurutnya ketegangan sudah dirasakan sejak kampanye Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017, saat Basuki Tjahaja Purnama, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dituduh melakukan penistaan agama.
Sejumlah pengamat mengatakan perpecahan lebih terjadi di jejaring sosial dengan salah satu pemicunya adalah semakin mudah dan maraknya peredaran berita palsu antara pendukung Joko Widodo dan Prabowo Subianto.
Tetapi, Ika Karlina Idris, dosen komunikasi di Universitas Paramadina mengatakan kepada The Conversation Indonesia jika jejaring sosial justru digunakan oleh warga "untuk mengekspresikan kekecewaan mereka terhadap hasil pilpres atau dukungan terhadap pemenang".