Modus Perjodohan, 29 Perempuan Indonesia Jadi Korban Perdagangan Manusia ke China

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Senin 24 Juni 2019 08:11 WIB
Human Trafficking Ilustrasi (Okezone)
Share :

Seminggu setelahnya, atau tepatnya pada 18 September 2018, ia diboyong suami beserta mertuanya ke China. Sayangnya Monika tak tahu di wilayah mana ia tinggal.

"Saya hanya tahu tinggal di daerah pegunungan," katanya singkat.

Baru beberapa hari menetap di rumah mertua, Monika disuruh bekerja merangkai bunga dari pukul tujuh pagi sampai jam tujuh malam.

"Itu upah kerja saya, tidak dikasih barang Rp100 perak pun." tukasnya.

Monika mengaku tak bisa menolak perintah mertuanya. Kalau membangkang, ia kena pukul dari suami atau tak diberi makan berhari-hari.

"Kalau saya melawan, tidak dikasih makan dua hari. Makanan saja diumpetin sama mertua. Saya dipukuli suami sampai biru-biru, ditinju pakai tangan," ungkapnya.

Belakangan pula, Monika baru tahu kalau pekerjaan suaminya adalah kuli bangunan. Pernah suatu kali, kata dia, karena menolak permintaan berhubungan seks karena sedang menstruasi, ia ditelanjangi.

"Saat itu saya sedang menstruasi, saya tidak mau melayani suami saya. Tapi saya dimarahi mertua dan disuruh telanjang untuk buktikan sedang haid."

Karena tak betah, Monika berusaha mengontak si "mak comblang" agar dipulangkan. Tapi hasilnya nihil.

"Tidak bisa dihubungi," ujarnya.

Sejak dikenalkan dengan Hao Tengfei dan dua bulan tinggal di China, Monika tak memberitahu orangtuanya di kampung karena dilarang oleh "mak comblang". Kira-kira Oktober 2018, ia baru mengontak ayah-ibunya.

Tak tahan hidup di China dan mendapat kabar bapaknya meninggal, Monika ingin kabur. Niat itu baru terlaksana awal Juni lalu. Ia melarikan diri dari rumah mertuanya dengan menaiki bus.

"Saya setop bus yang lewat. Turun di terminal bus Wuji. Terus saya setop taksi minta diantar ke kantor polisi setempat. Saat itu saya tidak bawa paspor."

"Saya sampai di kantor polisi di Provinsi Hebei. Tapi saya malah ditahan dan ditanya ngapain di sini. Saya bilang, saya menikah tapi tidak bawa paspor. Saya bilang tolong hubungi KBRI."

Saat seorang staf KBRI menyambanginya di kantor polisi, Monika menceritakan semua kisahnya, termasuk menjadi korban kekerasan fisik. Polisi setempat pun tahu alasan mengapa ia kabur.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya