Ismi bahkan sempat meminta suaminya menjual aset yang ada di Mataram, dan pindah ke kabupaten/kota lain yang dianggap lebih aman dan nyaman. "Pemberitaan tentang potensi gempa dengan kekuatan 8,5 Magnitudo, buat kita resah dan pastinya mengganggu konsentrasi kita beraktivitas," katanya.
Ia berharap pemerintah bisa lebih bijak lagi menyampaikan informasi tentang potensi bencana pada satu daerah agar masyarakat tidak resah dan panik.
Sebelumnya, Gubernur Nusa Tenggara Barat H Zulkieflimansyah meminta masyarakat tidak panik menyikapi pemberitaan potensi gempa berkekuatan 8,5 magnitudo yang akan terjadi di selatan Pulau Lombok.
"Jangan panik dan takut. Di Jepang, informasi itu satu hal yang biasa, apalagi kita sedang masuk dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi setelah gempa 2018," ujarnya.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 4,2 Guncang Tambrauw Papua Barat, Tak Berpotensi Tsunami
Informasi potensi terjadinya gempa magnitudo 8,5 diungkap Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mataram, Agus Riyanto, kalau Lombok Selatan menyimpan potensi gempa megathrust berkekuatan magnitudo 8,5 dan tsunami. Namun, tak ada yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa tersebut.
(Arief Setyadi )