Menurut Jamil, ini merupakan salah satu implementasi strategi percepatan ekspor yang dicanangkan Kementerian Pertanian, yaitu mendorong ekspor komoditas olahan dan menambah diversifikasi komoditas. Selain strategi lainnya yaitu: meningkatkan volume ekspor dan membuka akses pasar negara baru.
Strategi tersebut diwujudkan dalam terobosan dan inovasi Barantan berupa tindakan pemeriksaan karantina di gudang pemilik, inline inspection agar proses bisnis ekspor lebih terjamin juga lebih cepat; memberikan layanan prioritas bagi pelaku eksportir yang patuh karantina; memperluas akses pasar melalui protokol karantina, manajement risk analysis (MRA), kerja sama bilateral dan multilateral lainnya.
Selanjutnya Barantan juga telah menerapkan sertifikat elektronik, e-Cert ke negara tujuan ekspor yang telah memiliki kesiapan sistem ini. “Dengan e-cert kita akan mengetahui apakah produk yang dieskpor dijamin diterima atau tidak sebelum komoditas eskpor tiba,” jelasnya.
Awalnya tidak ada yang menduga bahwa singkong dan porang yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat umum mempunyai nilai ekonomi tinggi dan banyak diminati luar negeri. Manfaat singkong bagi kesehatan adalah mencegah anemia, melindungi dan memperbaiki jaringan tubuh, menurunkan risiko penyakit jantung dan bahkan mencegah kanker. Sementara umbi porang (Amorphophallus Muelleri Blume) banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung. Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental, bahkan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang.
Beragam manfaat yang dimiliki singkong dan porang membuat kedua komoditas tersebut mampu merambah pasar internasional selain kelor dari Pasuruan dan Madura yang ditasbihkan sebagai tanaman dengan sejuta manfaat.