"Selama 1880-an dan 1890-an, kecurigaan diarahkan terutama terhadap Jerman, yang mengembangkan minat di Amerika Latin," tulis Dookhan. "Fakta bahwa perusahaan kapal uap Jerman, Hamburg-America Line, menggunakan St. Thomas sebagai stasiun pengisian bahan bakar secara reguler cenderung memperburuk kecurigaan itu."
Negosiasi pertama antara AS dan Denmark dimulai pada 1865, tahun berakhirnya Perang Saudara. Menteri Luar Negeri AS, William Henry Seward sebenarnya menegosiasikan perjanjian dengan Denmark untuk menyerahkan pulau-pulau itu pada 1867, tetapi Senat menolaknya.
St. Croix. (Foto: Reuters)
Penolakan itu mungkin sebagian disebabkan oleh sentimen anti-ekspansionis yang muncul setelah Perang Saudara, dan sebagian karena fakta bahwa Senat marah pada Seward atas dukungannya kepada Presiden Andrew Johnson selama persidangan pemakzulan.
Negosiasi dimulai lagi pada 1890-an tetapi gagal dengan pecahnya Perang Spanyol-Amerika pada 1898.
Setelah kemenangan dalam Perang Spanyol-Amerika, wilayah AS semakin luas, begitu juga dengan kepentingan nasionalnya, membuat negara itu makin tertarik untuk membeli St. Thomas, St. John dan St. Croix untuk mengamankan rute untuk pembangunan Kanal Panama di masa depan.
Sekali lagi menteri luar negeri AS, kali ini dijabat oleh John Hay, melakukan negosiasi dengan Denmark. Senat meratifikasi perjanjian itu pada 1902, tetapi kali ini, parlemen Denmark menolaknya.
Pada 1915, di tengah berkobarnya Perang Dunia I di Eropa dan kekhawatiran akan kemungkinan pengambilalihan oleh Jerman memotivasi AS untuk melakukan upaya negosiasi baru bagi kepulauan tersebut. Namun, para pemimpin Denmark menolak menyerahkan kepulauan berpenduduk mayoritas kulit hitam itu kepada AS yang memiliki pemisahan rasial.
Marah atas jawaban Denmark, Menteri Luar Negeri AS Robert Lansing mengancam bahwa jika Denmark tidak menjual pulau-pulau itu, AS mungkin saja merebut mereka dengan invasi untuk mencegah Jerman menguasainya.