Kemudian mereka diajak kembali untuk melihat tempat-tempat lainnya. Hingga akhirnya Nur izin pulang ke rumah singgah yang dihantar oleh Bima. Perjalanan pun dilanjutkan oleh empat orang mahasiswa lainnya.
Hingga pada suatu malam keanehan mulai dirasakan para mahasiswa tersebut seperti Widya yang mulai menari-nari. Melihat Keanehan itu, pak Prabu segera membawa para mahasiswa itu seperti Bima, Widya dan Ayu dengan menggunakan motor ke tempat orang yang dituakan di desa itu yang disebut Mbah Buyut.
Setibanya di rumah Mbah Buyut, para mehasiswa itu diminta meminum kopi ireng. Ternyata, kopi yang rasanya pahit itu merupakan racikan untuk memanggil lelembut, demit dan sejenisnya.
Setelah kunjungannya disimpulkan jika ada sosok makhluk gaib yang mengikuti Widya. "Mohon maaf ya nak, kamu, ada yang mengikuti," kata Pak Prabu kepada Widya.
KKN mereka pun tetap berjalan sesuai rencana. Hingga akhirnya Wahyu dan Widya harus pergi ke kota untuk kebutuhan KKN nya dengan meminjam motor pak Prabu.
Setelah menembus hutan, mereka pun tiba ke kota dan membeli berbagai kebutuhannya untuk di desa. Selesai itu, Wahyu dan Widya kembali ke desa dengan kembali memasuki hutan.
Selama perjalanan menuju desa, motor yang mereka tumpangi mengalami kerusakan. Setelah beberapa lama, mereka pun bertemu dengan bapak tua yang mencoba menolongnya.