PAKAR kesehatan memperingatkan ancaman bahaya kesehatan akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah memburuknya kualitas udara di Kalimantan Tengah dan Riau.
Sementara seorang warga bernama Julyana Mantuh hanya menanti turunnya hujan. Setelah hampir tiga bulan menjalani hidup di bawah kabut asap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, ia merasakan penyakit asmanya kambuh lagi.
Mengutip dari BBC News Indonesia, Kamis (19/9/2019), perempuan berusia 25 tahun ini mengatakan kabut asap karhutla telah mengganggu aktivitasnya di luar rumah.
Baca juga: 281 Titik Api Terpantau di Sumsel, Status Udara Sempat 'Berbahaya'
"Ada beberapa daerah yang jarak pandangnya itu kurang dari 100 meter, dan beberapa hari terakhir juga saya merasakan sakit tenggorokan, dan enggak enak buat aktivitas di luar rumah. Karena kalau sebentar saja berkendara di luar rumah itu mata kita jadi perih."
"Kami sangat butuh hujan, sebenarnya, karena kemarin sempat turun hujan dan itu bikin bersih udara Kota Palangkaraya. Ternyata di-epic comeback (kembali lagi) sama asap lagi," lanjut Julyana yang selalu membawa inhaler dan masker N95 setiap keluar rumah.
Kualitas udara di Palangkaraya memang sangat buruk dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pantauan Airvisual, indeks kualitas udara ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah itu pada Selasa 17 September mencapai 480, yang berarti "Hazardous" atau berbahaya, jauh dari batas aman yakni 100.
Dampaknya udara buruk bagi kesehatan telah dirasakan oleh sebagian warga Palangkaraya.
Baca juga: WALHI: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Dijerat Pidana dan Pencabutan Izin
Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah mencatat bahwa setiap pekan terdapat kurang-lebih 2.000 warga yang melaporkan menderita infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Gejalanya berupa batuk dan pilek, namun bisa lebih berat bagi penderita asma seperti Julyana.
Meski demikian, Kepala Dinas Suyuti Syamsul mengatakan situasi belum ditetapkan sebagai kejadian luar biasa.
"Setiap minggu kurang lebih 2.000. Tetapi yang harus digarisbawahi kami bukan jumlahnya, apakah ada kenaikan dua kali lipat dibanding minggu sebelumnya. Ternyata selama ini belum ada. Memang naik signifikan, tapi itu sekitar 10–20 persen, tidak sampai dua kali lipat. Sehingga dari sisi kesehatan, kita tidak bisa menyatakan sebagai kejadian luar biasa," kata Suyuti kepada BBC News Indonesia, Selasa 17 September 2019.