JAKARTA - Peringati hari guru sedunia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengadakan acara memperingati hari guru yang bertemakan "Guru Milenial, Sebuah Profesi di Masa Depan" yang berlangsung di gedung A Kemendikbud Jakarta, Kamis (10/10/2019). Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat eselon, para guru, hingga para mahasiswa dari fakultas pendidikan Universitas Prof. Dr. Uhamka serta dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Hari guru sedunia diadakan setiap tahun oleh UNESCO yang diperingati oleh negara-negara anggota UNESCO dan juga dari seluruh anggota negara di dunia setiap tanggal 5 Oktober sejak tahun 1994. Tujuan diperingatinya hari ini adalah untuk memberikan dukungan kepada para guru di seluruh dunia dan meyakinkan mereka bahwa keberlangsungan generasi pada masa depan ditentukan oleh guru. Menurut UNESCO, Hari Guru Sedunia mewakili sebuah kepedulian, pemahaman, dan apresiasi yang ditampilkan demi peran vital guru, yaitu mengajarkan ilmu pengetahuan dan membangun generasi.
Tema yang diangkat oleh UNESCO tahun ini adalah "Teacher, the Future of the Profession" yang menunjukkan bahwa bahwa pentingnya kehadiran tenaga tenaga guru dalam dunia pendidikan. Kesuksesan sebuah negara berawal dari kualitas pendidikan yang memadai.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mengatakan, profesi guru adalah profesi yang istimewa yang sekarang menjadi profesi yang bisa kita sejajarkan dengan profesi-profesi impian dari generasi milenial saat ini.
"Pada acara hari ini, kita sama-sama melihat adik-adik mahasiswa dari fakultas pendidikan ini banyak yang hadir pada acara ini, dan juga berdasarkan data Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan mengatakan bahwa mahasiswa yang berkuliah di fakultas pendidikan merupakan mahasiswa dengan persentase terbanyak yakni 23 persen atau sekitar 1,3 juta orang," ujar Muhadjir pada sesi sambutan di acara memperingati hari guru sedunia, Jakarta (10/10/2019).
Disisi lain, Direktur Jeneral Guru dan Tenaga Kependidikan, Supriano mengatakan, berdasarkan data UNESCO di seluruh dunia ada lebih dari 250 juta anak-anak dan remaja yang putus sekolah.
"Namun yang lebih memprihatinkan adalah bahwa lebih dari 600 juta anak dan remaja di seluruh dunia mereka terdaftar dalam program pendidikan resmi, namun tidak mendapatkan hak nya untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas karena kekurangan tenaga pendidikan alias guru," tandas Supriatno.