Militer Myanmar Akui Siksa Tahanan di Rakhine Setelah Video Pemukulan Muncul di Medsos

Rahman Asmardika, Jurnalis
Rabu 13 Mei 2020 16:58 WIB
Foto: AFP.
Share :

NAYPYIDAW – Militer Myanmar mengakui pasukannya melakukan penyiksaan terhadap para tahanan di Negara Bagian Rakhine, setelah sebuah video muncul di media sosial, memperlihatkan tentara Myanmar memukuli tahanan yang ditutup matanya. Pengakuan itu merupakan hal yang jarang dilakukan militer Myanmar yang sering dituduh bertindak dengan impunitas.

Video yang muncul pada Minggu (10/5/2020) memperlihatkan para pria berpakaian preman meninju dan menendang kepala para tahanan yang diborgol dan ditutup matanya.

Menurut situs web kantor kepala militer Myanmar, kelima tahanan itu telah ditangkap karena dicurigai sebagai pemberontak Arakan Army (AA) dan dipindahkan ke Ibu Kota Negara Bagian Rakhine, Sittwe dengan kapal pada 21 April ketika insiden itu terjadi.

Angkatan bersenjata Myanmar terlibat dalam perang yang semakin brutal dengan para pemberontak, yang berjuang untuk memperoleh lebih banyak otonomi bagi umat Buddha etnis Rakhine.

Dalam sebuah pernyataan, militer Myanmar mengatakan bahwa beberapa anggota pasukan keamanan menginterogasi para tahanan dengan cara "tidak sesuai dengan hukum" dan tindakan akan diambil terhadap mereka yang bertanggung jawab. Tidak dijelaskan hukuman apa yang akan dijatuhkan.

Video itu telah dibagikan puluhan ribu kali dan menimbulkan perbedaan pendapat di Myanmar, antara mereka yang marah dan mengecam dengan mereka yang membela militer.

Keluarga para pria yang ditangkap menyangkal bahwa mereka memiliki hubungan dengan AA.

"Dia hanya bekerja di toko beras. Dia tidak tahu apa-apa tentang AA," kata Ni Ni, ibu dari tahanan Nyi Nyi Aung (24), mengatakan kepada AFP melalui telepon.

Video itu memperlihatkan tentara yang menginterogasi Nyi Nyi Aung menarik rambutnya ke belakang saat dia memukul wajahnya, sebelum penjaga lain menendang kepalanya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya