JAKARTA – Mantan duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat (AS) Dino Patti Djalal menilai kerusuhan di AS berhubungan dengan rasisme.
Kerusuhan di AS dipicu oleh kematian seorang pria kulit hitam usai diinjak menggunakan lutut oleh seorang polisi kulit putih di Kota Minneapolis, Minnesota.
Protes kemudian menyebar ke berbagai kota di negara bagian di AS.
Dalam wawancara dengan program Special Report iNews TV, Senin (1/6/2020), Dino Patti Djalal, yang merupakan Dubes Indonesia untuk AS dari 2010-2013, mengatakan warga kulit mengalai diskrimasi sosial, penghasilan kulit hitam USD30 ribu dolar, sedangkan warga kulit putih USD66 ribu.
“Intinya memang ada tren sosial di mana orang berkulit hitam lebih tinggi lebih banyak 240% dibanding orang kulit putih,” ujarnya.
Dino menjelaskan bahwa sejarah kepolisian di AS banyak ketegangan dengan masyarakat.
Ia menambahkan bahwa kelambanan polisi Minnesota dalam menangani kasus merubah protes menjadi kerusuhan.
Video yang beredar sebelumnya memperlihatkan seorang petugas polisi kulit putih di Kota Minneapolis menggunakan lututnya untuk menekan leher Floyd ke tanah.
George Floyd mengerang "tolong, saya tak bisa bernapas" dan "jangan bunuh saya" sementara itu orang-orang yang lewat menyerukan kepada para petugas untuk melepaskannya.
George Floyd lalu berhenti bergerak, dan ambulans tiba untuk membawanya ke rumah sakit. Tak lama Floyd meninggal di sana.
Kematian Floyd menyalakan kembali kemarahan pada perlakuan polisi terhadap orang keturunan Afrika-Amerika.
Protes atas kematiannya telah berubah menjadi kerusuhan, mendorong kota-kota besar untuk memberlakukan jam malam.
Derek Chauvin, petugas polisi yang menindih leher George Floyd, kini telah dipecat dari kepolisian.
(Rachmat Fahzry)